Dreaming in حلالا way. . .

Halaman

Cari Blog Ini

Apa sih artinya?

Minggu, 22 Maret 2015

[Cerpen] Hujan untuk Ruki


          “Aaa, Hujaan!”
          Seorang gadis remaja terlihat berteriak kegirangan saat didapatinya satu per satu rintik air langit itu jatuh di bumi, rintiknya yang bergantian terdengar berirama, indah sekali. Begitulah yang dipikirkan Rani, nama gadis itu, gadis penyuka hujan.
          “Rani, Kau ini terlalu berlebihan. Ini hanya hujan.” Sosok gadis lain terlihat merespon tingkah Rani yang berubah drastis semenjak buliran-buliran bening yang ia sebut air langit keberuntungan itu datang.
          “Yeni, Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Lihatlah betapa indah dan syahdunya suasana di sini semenjak hujan datang. Rasakan Yeni!”
          Rani semakin menjadi saat di jumpainya buliran itu turun semakin deras. Dipejamkan mata birunya itu kemudian ditarik napasnya perlahan bersamaan dengan sunggingan senyum yang terulas manis di wajahnya, berusaha merasakan aroma hujan yang begitu dirindukannya. Yeni yang melihat reaksi teman sebangkunya tersebut hanya dapat menggeleng keheranan sebelum ia kembali berkutat dengan beberapa soal integral di depannya. Dia memang sudah hafal setiap gerak gerik sahabatnya itu, termasuk antusiasnya ketika hujan datang.
          “Yeni. Ayo kita hujan-hujan.”
          “Eh?” Tawaran Rani baru saja mengaggetkan dirinya, Ia tidak menyangka sahabat satu-satunya itu terlihat begitu gembira hanya karena rintik hujan, “Ahh, tidak. Kamu tidak tahu, kita sedang mengerjakan tugas untuk besok? Lihatllah soalnya begitu rumit, lebih baik kau membantuku saja Yeni. Kau kan jago matematika.”
          Penolakan Yeni membuat teman bicaranya itu memajukan bibirnya beberapa senti. Ekspresinya berubah kesal saat mendengar respon negatif dari Yeni. Melihat sahabatnya yang kehilangan semangat secara tiba-tiba, Yeni menjadi merasa bersalah. Iapun berusaha mendekati dan membujuknya untuk tersenyum kembali.
          “Rani. Coba kamu pikirkan kembali, kita sudah SMP dan sedang berada di lingkungan sekolah. Kamu nggak malu di cap seperti anak kecil saat teman-teman melihatmu hujan-hujan.” Ujar Yeni sedikit berbisik.
          Yeni terdiam, raut wajahnya berubah datar, sepertinya dia sedang menimbang-nimbang kembali saran dari temannya baru saja. Hingga kemudian ia berucap,
          “Aah, padahal aku begitu ingin, sudah lama sekali aku tidak berbaur dengan hujan. Yah, mungkin harus kutunda dulu untuk mengajari temanku satu ini.”
          Jawaban Rani membuat Yeni sumringah, meski ia tahu Rani sangat terpaksa memutuskan hal itu, tapi bukankah itu lebih baik, ketimbang melihat seisi sekolah memandangi seorang siswi SMP bermain hujan-hujanan bak anak kecil. Tidak perlu dibayangkan. Yeni segera mengambil buku yang tergeletak tidak jauh dari posisinya saat itu dan segera menunjukkan beberapa soal yang ia anggap sulit kepada Reni.
          “Mengapa sih kamu suka sekali kepada Hujan?” Tanya Yeni tiba-tiba, di tengah kesibukan Rani mengerjakan  soal-soalnya saat itu.
          Rani menghentikan aktivitas menulisnya, Ia tersenyum, tatapanya berubah teduh saat didongakkan wajahnya memandang rintik hujan yang turun berirama tepat di hadapannya.
          “Hujan itu mengaggumkan. Aku bersyukur atas karunia Tuhan yang satu ini. Amati setiap rintik yang jatuh itu! Bukankah Tuhan memberikan banyak berkah melalui hujan? Ia dapat menentramkan suasana, menyuburkan tumbuhan yang layu, menyegarkan udara dari kepenatan atau polusi, dan masih banyak lagi. Pokoknya semua orang pasti suka hujan.”
          “Kecuali aku.”
          Suara sumbang yang tidak diharapkan itu tiba-tiba membuyarkan suasana syahdu yang menyelimuti raga Rani sebelumnya. Rupanya mndadak muram saat mendengar kalimat yang mengalir di telinganya, sepertinya ia tidak suka. Ia menolehkan wajahnya mencari sumber suara pengganggu itu. Kekecewaannya memuncak saat didapati seorang laki-laki, yang tak lain adalah teman sekelas Rani pula sedang menyilangkan kedua tangannya dengan ekspresi benci, benar-benar jauh dari kata menyenangkan. Cahaya empat bola mata penuh kebencian itu saling bertatapan untuk sesaat.
          “Kenapa? Kamu tidak suka mendengarnya? Kamu tidak suka jika aku mengatakan aku benci hujan?”Laki-laki di hadapan Rani menimpali dengan ekspresi kesal, cukup membuat Rani ingin menampar wajahnya saat itu. Sebelumnya, Rani memang tak pernah menjumpai seorangpun yang menyatakan kebenciannya terhadap hujan hingga sebenci itu. Pendapat mereka pasti sama terhadap Rani, hujan adalah anugerah, tapi ada apa dengan anak ini.
          “Kau yakin dengan kalimatmu baru saja? Memangnya kau bisa hidup tanpa anugerah Tuhan berupa hujan?” Tanya Rani berusaha melawan.
          “Yakin, bahkan sangat yakin! Hujan itu kejam!”
          Kalimat singkat anak itu cukup membuat tangannya mengepal semakin keras hingga ia pun ingin benar – benar menampar wajah tirusnya tadi. Namun sepertinya Rani harus memendam jauh-jauh keinginan buruknya itu, saat anak laki-laki itu kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.
          “Ada apa sih dengan Ruki?” Tanya Yeni tiba-tiba. Tak ada jawaban dari Rani, ekspresi geramnya masih terpeta jelas di wajahnya. Kepalan kedua tangannya yang semakin keras memaksa Yeni bergerak mundur menjauhinya.
          “Akan ku buat dia menyukai hujan.”
-[]-[]-[]-
          “Yee, akhirnya kita pulang.”
          Sorak sorai seisi kelas terdengar riuh menandakan kebahagiaan mereka menyambut jam pulang. Begitupun dengan Rani dan Yeni, sepertinya suasana hati mereka sudah cukup stabil pasca kejadian menegangkan kemarin, ekspresi ceria dari Renilah yang menandakannya.
          “Yeni, tunggu sebentar. Aku ingin memberikan kabar gembira untukmu.” Ujar Rani menahan tangan Yeni yang sebelumnya sudah berdiri berniat meninggalkan kelas.
          “Ada apa?” Tanya Yeni penasaran sembari memposisikan sikap duduknya kembali.
          “Ssst.. jangan sampai ada yang tahu, tunggu kelas sepi dulu ya.” Ujar Rani tersenyum lebar.
          Rani pun hanya bisa menyetujui permintaan sahabatnya tersebut walaupun sebenarnya ia ingin sekali segera pulang karena awan mendung penanda turun hujan sudah terlihat sejak tadi.
          “Udah sepi nih. Ada apa?”
          Rani mengeluarkan sebuah barang berbentuk batangan bulat berbungkus kain berwarna merah dari tasnya.
          “Hah? Payung? Lalu apa kabar baiknya?” Tanya Yeni masih belum mengerti.
          “Ini payung milik Ruki.” Jawab Reni sembari berbisik ke telinga Yeni,
          “Hah? Mengapa kau ambil?” Refleks Yaniberteriak cukup keras kepada Reni, membuatnya terlonjak kaget.
          “Ssst, jangan keras-keras!” Ujar Reni lalu menutup mulut Yeni untuk mengecilkan volume suara sahabatnya itu. “Aku kan sudah bilang,aku ingin membuatnya menyukai hujan.” Sambung Reni tersenyum, membuat Yani terkaget-kaget untuk kesekian kalinya.
          “Bagaimana bisa?” Reni tidak menjawab pertanyaan terakhir Yani.
          Wajahnya mendadak sumringah saat didengarnya rintik hujan mengetuk atap kelas secara bergantian. Ia menggandeng tangan sahabatnya tersebut dan menariknya keluar. Benar saja, hujan sudah mulai turun sangat deras. Berkebalikan dengan Reni yang terlihat semakin bahagia menyambut hujan, Yani terlihat sedih saat keinginannya untuk pulang lebih cepat terhenti oleh hujan yang pasti akan membuatnya basah kuyup jika ia tetap bersikukuh untuk pulang.
          Dari kejauhan terlihat Ruki sedang berdiri di depan aula sekolah, sepertinya ia terlihat sibuk menggeledah tasnya berulang kali, seperti mencari sesuatu tetapi ia tak kunjung menemukannya. Kepanikan mulai melingkupi raut muka tirus itu, sesuatu itu sepertinya sangat penting untuknya. Reni yang melihat keberadaan Ruki pun hanya terkikik kecil dari kejauhan saat melihat ekspresi Ruki yang pasti sedang mencari payung miliknya.
          “Lihat si Ruki? Sepertinya ia akan basah kuyup hari ini.” Ujar Reni senang berhasil mengerjai Ruki
          “Kau tidak kasihan ya? Dia kan ada kursus hari ini, sepertinya ia akan terlambat jika tidak segera berangkat.”  Ujar Yeni dengan tampang memelasnya, sepertinya Ia menaruh rasa kasihan yang sangat tinggi kepada Ruki saat itu.
          “Mari kita lihat! Berapa lama ia akan bertahan?” Reni menimpali lagi, antusiasnya menjadi-jadi saat ditemui kepanikan Ruki yang bertambah dua kali lipat, dan di luar dugaan, Ruki memaksakan dirinya menerjang hujan deras siang itu tanpa pelindung apapun. Yeni terlihat cemas melihat kondisinya saat itu, rasanya ia ingin sekali menarik tangan Ruki dan melindunginya dari hujan, tapi ia tidak bisa. Tak butuh waktu lama, hujan sudah membuat seragam dan raganya basah kuyup. Bukankah itu sangat buruk untuk kesehatannya? Apalagi bagi hati dan perasaannya yang menyatakan ketidaksukaannya hujan.
-[]-[]-[]-
          “Reni, Hari ini Ruki tidak masuk. Bagaimana kalau dia sakit?” Tanya Yani tiba-tiba dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.
          Benar saja. Hari ini Ruki tidak masuk, sepanjang jam pelajaran, Yani terus menerus dirundung rasa bersalah. Meskipun sepenuhnya bukan Yani yang bersalah karena bukan dia pemicu pencurian payung itu, tapi apapun alasannya Yani juga sudah terlibat di dalamnya dan menyetujui rencana buruk itu.
          “Aku juga tidak tahu.”
          Meskipun Reni terlihat sedikit cuek mendengar keadaan Ruki, tetap saja gurat-gurat kecemasan di wajahnya tidak dapat disembunyikan. Selama ini Reni bukanlah  tipe orang yang lari dari kesalahan bahkan menjadi pemicu kesalahan. Ia adalah orang yang baik. Tapi kebaikannya mulai luntur semenjak kejadian sepele akhir-akhir ini, hanya karena ada orang yang membenci hujan.
          “Ayo, kita jenguk dan minta maaf kepadanya Reni. Jangan sampai hanya dia berbeda pendapat denganmu tentang hujan membuat jarak di antara kalian berdua. Bukankah sebelumnya kalian teman yang akur? Biarkan dia benci, dan biarkan dirimu tetap menyukai hujan. Toh sebenci apapun dia terhadap hujan, tidak akan bisa menghentikan rintiknya bukan?”
          Reni merenung sejenak, mencerna satu per satu kata yang merangkai ucapan Yani baru saja. Kalimat penjelasan dari Yani cukup menyadarkan Reni bahwa ia harus menerima semua tanggapan yang berbeda dari orang lain. Ya, Yani benar, ia tak seharusnya memaksakan Ruki untuk menyukai hujan sama sepertinya. Akhirnya meskipun agak sedikit terpaksa Reni menyetujui ajakan Yeni.
          Sepulang sekolah, mereka pun menunda kepulangan masing-masing demi menjenguk Ruki dan mencari tahu alasan yang menyebabkannya tidak masuk sekolah hari ini. Tak butuh waktu lama untuk menyambangi rumah Ruki, karena jarak rumah anak itu memang tidak terlalu jauh dari sekolah. Suasana Rumah Ruki terlihat sepi, Yani mengetuk pintu kayu rumah tersebut. Tak ada jawaban, diketuknya kembali untuk memastikan keberadaan penghuninya. Hingga akhirnya ganggang pintu di depan mereka bergerak menandakan akan terbuka dan benar saja, terlihat wanita paruh baya tersenyum ramah menyambut mereka.
          “Ibu, Kami teman sekelas Ruki, Hari ini Ruki tidak masuk, jadi kami menjenguknya.” Ujar Yani memulai pembicaraan.
          “Oh begitu, mari masuk.” Sambut Ibu tadi mempersilakan masuk disusul langkah mereka yang mengikutinya dari belakang. Setelah dipersilakan duduk pula, Ibu Ruki mulai mengawali pembicaraan.
          “Ruki jatuh sakit semenjak kemarin malam, mungkin karena kehujanan. Ibu sangat panic melihatnya basah kuyup dan menggigil secara berlebihan. Semenjak ia mengidap phobia terhadap hujan, dia jarang sekali kehujanan bahkan tidak pernah.” Jelas Ibu dengan nada lembut.
          Hah? Phobia? Mereka memandang satu sama lain, kalimat penjelasan Ibu cukup membuat mereka berdua terkejut kembali. Satu per satu pikiran buruk menyambangi otak Reni, ia tidak menyangka  akan jadi seperti ini, Ruki mengidap phobia kepada hujan, dan karena paksaannya Ruki menjadi sakit. Hal itu cukup membuat penyesalan Reni muncul kembali, ditundukkan wajahnya dalam-dalam berusaha menutupi penyesalan atas sikapnya kemarin.
          “Sekarang Ruki di mana bu?” Tanya Yani kemudian
          “Oh dia ada di kamar. Sepertinya kondisinya sudah cukup membaik hanya butuh istirahat saja, silahkan kalau ingin menjenguk.” Ujar Ibu sembari menunjukkan kamar Ruki kepada kami.
          Setelah Ibu mengetuk pintu dan terdengar suara lemah Ruki yang mempersilakan masuk, akhirnya mereka bertiga pun masuk. Kedatangan mereka cukup membuat Ruki kaget, apalagi saat melihat Reni yang masih ragu-ragu untuk mendongakkan wajahnya. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, pikiran dan rasa bersalahnya kepada Ruki. Berat sekali baginya untuk bertemu Ruki karena keadaan mereka yang belum membaik semenjak kejadian itu.
          “Ibu tinggal dulu ya.” Ijin Ibu sebelum beliau pergi meninggalkan mereka berdua di kamar Ruki.
          Mereka terdiam di tempat, tak ada gerak lanjutan yang dilakukan sejak Ibu meninggalkan mereka di kamar Ruki. Mereka tetap saja memandang Ruki yang masih tergeletak di atas ranjang kecilnya itu tanpa keberanian untuk mendekatinya. Rasa bersalah yang teramatlah yang menjadi alasan mereka saat itu.
“Emm, Ada yang ingin kalian sampaikan?” Pertanyaan Ruki baru saja membuyarkan lamunan-lamuna semu mereka, hingga akhirnya dibernaikan langkah mereka unutk mendekati Ruki meski sedikit terpaksa. Merekapun duduk tepat di samping ranjang Ruki, diikuti gerakan Ruki yang bangkit untuk menyandarkan punggungnya di depan tembok.
“Ruki, Bagaimana keadaanmu?”Tanya Yani tergagap-gagap memberanikan diri untuk berbicara.
“Oh, Aku sudah mendingan.” Jawabnya pelan
“Ruki, aku ingin minta maaf soal kejadian itu.” Akhirnya Reni pun memberanikan diri untuk berucap.
Ruki menatap sendu wajah Reni yang masih tidak terlihat karena ia masikh konsisten menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan segala perasaan bersalahnya kepada Ruki.
“Tidak apa-apa. Aku malah berterima kasih kepadamu. Terima kasih telah memaksaku kehujanan, Semenjak kau mengambil payungku, Aku jadi memberanikan diri untuk menghadapi fobiaku terhadap hujan. Itu berguna sekali.” Pernyataan Ruki sontak mengaggetkan Reni. Untuk pertama kalinya didongakkan wajah Reni dan ditatapnya teman laki-lakinya itu. Ia tidak menyangka ruki mengetahui niat buruk darinya saat mencuri payung milik Ruki.
“Kau sudah tahu Ruki?” Ujar Reni dengan mulut sedikit bergetar. Rasanya ia malu sekali berjumpa dengan ruki saat itu apalagi menatapnya.
“Aku mengetahui dirimu yang mengambil payungku saat seisi kelas sedang berolahraga. Saat itu aku ingin mengambil minum di kelas, tapi ku urungkan niatku seketika, karena aku tidak ingin menggagalkan rencanamu itu.” Jawab Ruki dengan sedikit bercanda. Candaan yang sama sekali tidak membuat hati Reni terhibur tapi malah semakin mempermalukannya.
“Taukah kalian mengapa aku begitu membenci hujan sebelumnya?” Tanya Ruki, tiba-tiba wajahnya berubah serius melenyapkan candaan yang ia buat baru saja. Mereka menggeleng pelan.
“Hujan sudah merenggut seseorang yang sangat berarti untukku, Ayahku.” Mereka terdiam sesaat, masih belum bisa menangkap maksud penjelasan Ruki baru saja, hingga iapun melanjutkan pembicaraannya, “Saat itu hujan turun begitu deras bahkan sangat deras, hujan turun berhari-hari hingga mampu memecah bendungan di desaku. Pada saat yang sama pula, aku sedang berada di dalam rumah. Kami begitu panik, tapi Ayahku segera membawa aku dan Ibu ke dalam mobil yang jauh-jauh hari sebelum bencana itu disiapkan oleh tetangga kami, kami memang sudah menduga bendungan itu tidak akan kuat menahan derasnya air. Tapi, Tetangga kami begitu terburu-buru unutuk segera menyelamatkan jiwa raga kami, hingga ia pun tak menggubris Ayah yang tiba-tiba berbalik arah menuju rumah untuk membawa beberapa dokumen penting. Namun sayang, Air bah itu muncul lebih cepat dibanding langkah ayah untuk menyelamatkan diri. Dan akhirnya..” Ruki menghentikan penjelasannya, ia tmengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya, rasanya sakit sekali saat ia harus mengingat kembali kenangan buruk yang mati-matian ingin sekali dihilangkannya.
Sebelum akhirnya keheningan benar-benar menyelimuti suasana siang itu. Tak ada kata yang terucap, Reni begitu terkejut saat mendapati alasan dibalik kebencian Ruki terhadap Hujan. Ia semakin menyalahkan dirinya sendiri . Mengapa ia begitu bodoh saat itu? Tega-teganya ia menghakimi Ruki tanpa alasan yang logis. Bagaimana bisa Reni memaksanya untuk menyukai hujan yang telah memberi kenangan buruk baginya?
          “Ruki, aku minta maaf. ” Reni meraih tangan Ruki dan mengenggamnya erat. Ia benar-benar menyesal saat itu.
          “Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu, Aku mengambil banyak hikmah dari kejadian ini. Setidaknya aku sedikit mulai menerima semua takdir ini, takdir bahwa Tuhanlah yang merencanakan semua ini, termasuk kematian Ayah. Aku juga sadar bahwa hujan adalah anugerah sama seperti yang kau katakan, dan Aku menarik kata-kataku dulu, Aku pun pasti tak bisa hidup tanpa hujan. Karena yang membuat bencana adalah kesalahan manusia, dan takdir Tuhan itu pastilah yang paling baik. Sepertinya kau sudah hampir mencapai tujuanmu, Reni.”
          “Hah?” Reni menangkap cahaya mata dari Ruki yang sedang tersenyum menatapnya pula.
          “Sepertinya aku mulai menyukai hujan sama sepertimu, Reni.”
          Reni tertergun mendengarnya, tak ada kata yang terucap untuk merespon pernyataan yang berhasil membuatnya termangu cukup lama. Ia tidak tahu pasti apa yang sedang dirasakannya saat itu, kebahagiaan atau kesedihan? Sepertinya dia terjebak pada tempat yang sama. Sekuat tenaga, ditahannya air mata yang sudah berkumpul di pelupuknya.    
          Ditundukkan wajahnya untuk kesekian kalinya, Ia mengucapkan beribu-ribu maaf  kepada Ruki, Reni sadar ia tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai hujan sama sepertinya. Tapi ia juga sadar, mereka yang membenci hujan pasti akan menyukainya seiring berjalannya waktu, seperti Ruki. Ya karena hujan adalah anugerah dan hal itu tidak dapat dipungkiri.
 -End-
  Comments and Cirtics are LOVED :D

Jumat, 11 Oktober 2013

Terpadu Fisika Bob Foster

( Oleh  : Kelompok I / XII IPA 6 )

Data buku
Judul buku                  : Terpadu Fisika
Penulis                         : Bob Foster
Penerbit                       : Erlangga
Tahun terbit                 : 2012
Harga buku                 : Rp. 53.000,00
Tebal buku                  : viii + 288
Kertas yang dipakai    : HVS

            
         Buku Terpadu Fisika karya Bob Foster dibuat sesuai dengan KTSP 2006 yang mencakup materi-materi kelas XII. Materi-materinya terdiri dari beberapa bab diantaranya, gejala gelombang, cahaya, bunyi, listrik statis, medan magnet, induksi electromagnet dan arus tegangan listrik bolak-balik.
            Bob Foster menulis buku ini sesua KTSP 2006 dengan tujuan mengembangkan kemampuan berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaikan masalah, baik secara kualitas maupun kuantitas. Siswa diharapkan menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
        Buku ini disajikan secara runtut tiap bab, dengan tidak menghilangkan kelengkapan materinya. Penyajian buku ini juga didesain secara rapi sehingga pembaca tidak kesulitan untuk mempelajarinya, seperti penulisan materi yang kemudian disusul dengan rumus dan contoh soal yang sudah disertai dengan pembahasan sehingga dapat menolong siswa dalam mengerjakan soal-soal di buku ini. Antara materi, rumus, dan soal dibedakan dengan memberi warna ataupun tabel yang berbeda. Selain itu, bahasa yang digunakan juga mudah dicerna, sehingga siswa lebih mudah belajar menggunakan buku ini.
Kelebihan buku ini apabila dibandingkan dengan buku fisika karya Maten Kanginan, buku ini lebih praktis karena langsung mencakup dua semester, sedangkan buku Maten Kanginan hanya satu semester. Selanjutnya buku ini lebih berwarna dan harganya lebih murah dibandingkan buku Maten Kanginan. Hanya saja buku ini belum dilengkapi dengan bahasa inggris, seperti pada buku fisika karya Maten Kanginan. Lembaran-lembaran buku yang disusun juga kurang rekat, sehingga membuat lembar demi lembar buku Terpadu Fisika mudah terlepas.
Buku Fisika ini cocok untuk dipelajari oleh seluruh siswa program IPA di SMA, khususnya kelas XII, karena buku ini membahas tentang materi fisika secara jelas disertai dengan rumus-rumus yang didesain menarik dan ilustrasi-ilustrasi yang berhubungan dengan materi, sehingga siswa lebih mudah mengerti dan tidak merasa bosan membaca buku ini. Jadi, buku Terpadu Fisika dapat mempermudah siswa untuk mendalami ilmu fisika dari fisika dalam kehidupan sehari-hari, hingga fisika yang digunakan dalam pembelajaran sekolah.
Resentator : Alvian Raharjo, Aprilia Prihatmi Riski, Asri Nawan Cahyanti, Danang Kurniawan, Ingrid Elvina, Ridwan Abdullah, Vita Fatimah.

Sabtu, 29 Juni 2013

[Cerpen] Invisible Love from Father

            “Sebenarnya ayah dimana?” Lagi – lagi kalimat itu muncul di benakku. Sebuah Pikiran sederhana namun berubah menjadi beban hidupku akhir – akhir ini, ketika aku sudah beranjak dewasa. Mungkin dulu, aku tidak terlalu menganggap hal ini berlebihan.

Aku akan menurut dan langsung mempercayai Ibuku ketika ia mengatakan bahwa ayah sedang merantau. Tapi sekarang? Aku bukan anak kecil lagi, aku juga tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban ibu. Merantau? Selama inikah? Bahkan aku belum pernah melihatnya sama sekali semenjak kecil hingga sekarang, hingga usiaku menginjak 17 tahun. Apa benar yang dikatakan Ibuku? Apa hanya membohongiku saja? Aku yakin Ibu bohong.
Ku ambil setumpuk kayu bakar itu dan langsung menaruhnya di atas punggungku. Sebuah pekerjaan yang sudah menjadi kebiasaan sehari – hariku. Aku memang bukan anak orang kaya, bahkan kehidupanku teramatlah sederhana. Terkadang aku merasa sedih, aku juga ingin seperti anak – anak lain, belajar dengan tenang dan merasakan kehidupan yang lebih baik dari ini. Bukan karena aku tidak mensyukuri takdir yang diberikan Tuhan, aku hanya iri kepada teman – temanku, dimana mereka memiliki figur seorang Ayah yang menjadi tulang punggung dan pemimpin dalam sebuah keluarga. Sedangkan aku? Ibukulah yang  menggantikan peran Ayah selama ini. Berjuang mati – matian demi menghidupi keluarga kami. Sebenarnya aku tidak rela jika Ibu berjuang sendirian, sedangkan suaminya? Berada jauh entah dimana, bahkan aku yakin pasti Ibu juga tidak mengetahui dimana Ayah berada sekarang.
Kulangkahkan kakiku menuju pelataran sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Bahkan dengan lantai yang masih beralaskan tanah. Kukencangkan tali yang mengikat setumpuk kayu bakar itu dipunggungku saat akan memasuki tempat tinggalku ini. Suasana sepi menyambutku seketika, aku tidak heran. Memang Ibuku sedang sibuk memasak dan adikku satu – satunya itu pasti sedang bermain dengan anak tetangga. Aku berjalan ke arah Ibuku lalu meletakkan kayu bakar hasil jerih payahku itu di dekat pawon, sebuah kata yang asing sepertinya pada jaman global seperti ini. Kami memang masih memasak menggunakan kayu bakar karena kami tidak mampu membeli kompor gas layaknya orang – orang modern itu.
“Istirahat dululah nak. Bukankah sebulan lagi kau akan ujian?” Ucap Ibuku di sela – sela aktivitas memasaknya.
“Nanti saja bu, Narni masih ingin membantu Ibu kok.” Jawabku sembari mengusap peluh yang sudah memenuhi mukaku saat itu.
“Ya sudah, cucilah piring saja.” Sambung Ibuku halus dengan logat jawa yang masih kental di dalamnya.
Segera aku menuruti perintah Ibu, ku posisikan tempat dudukku di depan sebuah tumpukan piring yang sudah menantiku untuk segera membersihkannya. Lagi – lagi sekelumat pertanyaanku tentang siapa ayahku hadir kembali.
“Ayah itu seperti apa?” Tanyaku tiba – tiba, membuat Ibuku sejenak menghentikan aktivitasnya menggorengnya. Aku yakin Ibu masih berpikir untuk menjawab pertanyaanku ini. Aku harap bukan kebohongan lagi yang Ibu akan katakan, aku ingin jawaban yang sebenarnya.
“Ayahmu pribadi yang baik. Hanya saja kamu belum mengetahuinya.” Jawab Ibuku datar. Membuatku merasa tidak puas atas jawaban yang kudapatkan baru saja.
“Mengapa Ayah tak mengirimi ibu uang?”
“Mungkin ayah belum sempat.” Lagi – lagi Ibu tak menanggapi masalah ini serumit yang aku pikirkan. Untuk kesekian kalinya Ibu hanya sabar dan sabar.  Bukannya aku tak senang, tapi aku kasihan sama Ibu, tega- teganya laki – laki yang disebut Ayah bagi kita itu tidak mempedulikan Ibu saat ini, saat kondisi Ibu yang sudah makin renta. Aku kasihan, aku khawatir.

****

“Narni, kau sudah punya rencana untuk meneruskan kuliah?” Seorang teman di dekatku tiba – tiba bertanya.
“Belum sama sekali.” Jawabku yang masih tetap mencoba memecahkan soal Limit di hadapanku ini.
“Hah? Bukannya sebentar lagi kita kuliah?” Tanyanya lagi penuh keheranan.
“Bahkan aku tidak tahu, apakah aku bisa melanjutkan untuk kuliah atau tidak.” Jawabku lega saat soal yang terbilang sulit ini berhasil kupecahkan.
“Oh.” Ujarnya pelan, sepertinya dia merasa bersalah menanyakan hal itu kepadaku.
“Kalau kamu, Lisa?” Untuk pertama kalinya, aku memandang lawan bicaraku tersebut.
“Ayahku menyarankanku untuk melanjutkan ke UGM. Tapi, aku tidak yakin bisa menembus tes masuknya.” Ucap Lisa sedih. Ku tepuk pundak Lisa berulang untuk meyakinkannya.
“Kamu pasti bisa. Jangan jadikan keraguanmu menjadi sebuah hambatan untuk meraih impianmu itu. Dan jangan pula kecewakan Ayahmu, Lisa.”
“Terima kasih Narni, pasti Ayahmu bangga memiliki anak sebaik dan secerdas dirimu.”
Tidak ada kata yang terlontar dari mulutku. Diam adalah satu – satunya jalan yang bisa kulakukan. Memang apa yang bisa kuperbuat untuk membanggakan orang tuaku apalagi ayahku yang belum pernah sedetikpun menemuiku? Bahkan sempat terpikir, membanggakan ayah bukanlah hal yang penting lagi saat ini. Bagaimana bisa aku membahagiakan seseorang yang tidak pernah mempedulikan kehidupan kami.
Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Ku masukkan seluruh bukuku ke dalam tas, dan ku tata sedemikian rupa. Tak banyak waktu yang kubuang sia – sia  sepulang sekolah, aku hanya ingin langsung pulang untuk melihat keluarga kecilku dan tentunya membantu ibuku. Aku berpamitan dengan beberapa teman dekatku, dan sedikit melepas canda dengan mereka walau hanya sebentar. Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku berjalan menuju gerbang sekolah. Tapi suasana aneh datang saat aku melihat sosok anak kecil yang sepertinya tak asing lagi bagiku, terlihat sedang menunggu seseorang. Sepertinya aku kenal dengannya. Sinta? Adik kecilku itu, kenapa dia kemari? Bergegas aku menghampirinya.
“Sinta? Ngapain kamu di sini?” Pertanyaanku yang tiba – tiba ini sedikit mengagetkannya. Sontak Sinta mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Ada apa?” Sekarang keterkejutan bergantian menghinggapiku saat menatap wajah adikku yang penuh dengan kecemasan.
“Ibu sakit kak.”
Kalimat singkat yang terdengar sangat lirih itu membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku sempat kehilangan jiwaku sendiri ketika mendadak ragaku tidak bisa digerakkan. Namun aku segera sadar, ku gandeng tangan adikku dan mengajakknya untuk lekas pulang ke rumah. Kecemasan mulai melingkupi seluruh tubuhku dan keringat dingin pun mulai keluar dari setiap pori – pori kulitku. Bagaimana mungkin, Ibu sakit?
Untung saja jarak antara sekolah dan rumahku tidak terlalu jauh. Dalam kurun waktu setengah jam, kami sudah memasuki area rumah. Segera kubuka pintu rumah yang kebetulan terkunci, lalu kulangkahkan kakiku menuju kamar ibuku. Wajahku mendadak pucat saat kulihat sosok perempuan yang kusayangi terbaring lemah di atas ranjang. Perlahan kudekati ibuku yang sepertinya sudah mengetahui kehadiranku di sampingnya.
“Narni, kau sudah pulang? Maaf ibu tidak bisa berjualan saat ini, tiba – tiba kepala ibu ter,”
“Sudah, Ibu tidak usah terlalu banyak berpikir. Istirahatlah saja, biar Narni yang akan berjualan siang ini.” Ujarku terpaksa memotong pembicaraan ibu. Aku tidak ingin pada saat kondisi ibu yang sedang sakit seperti ini, Ibu masih sempat berpikir terlalu berat. Aku sangat khawatir jika saja kondisi Ibu semakin buruk.
“Narni, maafkan Ibu. Jika saja Ayahmu di sini, pasti kamu tidak perlu bekerja sekeras seperti ini.” Ujar Ibuku, raut wajahnya mendadak lesu dan sebulir embun berhasil jatuh mengalir pipinya. Kuusap air mata itu lembut.
“Tidak Ibu, aku tidak keberatan bekerja sekeras ini. Walau tanpa ayahpun, aku juga tidak merasa menderita untuk hidup seperti ini.”
Kutundukkan kepalaku sejenak, pikiran – pikiran tentang ayah yang sangat merisaukanku begitu juga dengan ibuku bukanlah cara yang tepat untuk memecahkan masalah saat ini. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana cara menyembuhkan ibuku, sementara kami tidak memiliki cukup uang untuk membawa ibu ke rumah sakit.
“Kita ke rumah sakit ya bu?” Tawarku cemas sembari kuletakkan punggung tanganku di atas dahi ibuku sekedar untuk mengecek temperatur tubuhnya sekarang.
“Tidak usah nak, Ibu hanya sedikit kelelahan. Jangan terlalu cemas ya!” Jawab Ibu sembari tersenyum, senyum yang benar – benar tulus untuk kami.
“Sinta, tolong ambilkan air hangat untuk Ibu.” Suruhku kepada adikku yang dari tadi tidak berani berucap sepatah katapun, mungkin dia juga merasa khawatir. Sinta mengangguk kemudian melangkah keluar untuk mengambilkan minum. Sejenak kupijat tangan kurus Ibuku, berusaha membuat keadaan Ibu menjadi lebih baik.
“Ngomong – ngomong, kamu berencana melanjutkan kuliah kemana, Narni?”
Pertanyaan Ibu barusan membuatku terkejut untuk kesekian kalinya. Rasanya tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Ibu, saat mengingat keadaan ekonomi kami yang sangat bertolak belakang dengan impianku saat ini. Bagaimana caranya aku harus menjawab bahwa sebenarnya impianku dari kecil adalah menjadi seorang dokter. Tapi biaya darimana? Dengan sangat terpaksa, kulupakan impian besarku itu, impian yang bisa dibilang mustahil untuk dicapai oleh orang sepertiku.
“Belum tahu bu.”
“Maaf nak, jika Ibu tidak bisa menyekolahkanmu nanti. Kau harus banyak berdoa dan berusaha, agar Tuhan memberikan berkahNya kepada kita, dan membuatmu bisa meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi jika hanya mengandalkan keadaan ekonomi kita, kamu tahu sendiri bukan? Sekali lagi maafkan Ibu ya, Nak.” Terlihat kesedihan dan penyesalan yang teramat dalam pada diri Ibu. Aku pun hanya bisa menundukkan wajahku dan menyembunyikan kesedihanku, saat mendengar pengakuan tulus dari Ibuku baru saja.
“Tidak apa – apa, bu. Semoga saja Narni bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Narni akan berjuang.” Saat itu pula ia mencurahkan segala perasaan sayangnya kepada ibunya sendiri, dipeluk erat ibunya sembari mengucapkan bertubi – tubi terima kasih atas pengorbanan ibu yang sudah merawatnya hingga saat ini, walau tanpa peran seorang ayah sekalipun.

****

 “Terima kasih bu.” Ujarku mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko ini. Aku memang sengaja menitipkan dagangan ibu ke toko tetangga, karena aku harus masuk sekolah sementara kondisi ibuku tidak memungkinkan untuk berjualan sepanjang hari. Ku ambil wadah yang sebelumnya menjadi tempat menjual daganganku. Syukurlah, daganganku ludes terjual hari ini.
“Sebentar Narni.” Pangilan pemilik toko itu menghentikan langkahku.
“Sepertinya kamu punya tamu ya? Aku melihat seorang laki – laki berada di depan rumahmu sepanjang hari tadi, dan adikmu mempersilakannya masuk.”
“Seorang laki – laki?”
Secepat mungkin aku melangkahkan kakiku menuju rumah sebelum kuucapkan terima kasih kepada pemilik toko tersebut. Kepanikan mendadak menyelimuti ragaku, aku harap tidak terjadi apa – apa, aku harap laki – laki itu bukan orang jahat, aku harap, Ya Allah. Kupercepat langkahku saat rumahku sudah mulai tampak. Hingga akhirnya aku sudah berada di depan pintu rumahku sendiri.
“Ibu?” Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumahku tak ada tanda – tanda tamu yang singgah, namun mendadak kedua bola mataku memfokuskan pandangan pada sepasang sepatu, yang sepertinya milik seorang laki – laki.
Sesegera mungkin aku berlari menuju kamar ibuku dan betapa terkejutnya ketika kudapati seorang laki – laki paruh baya yang sedang bersimpuh mencium tangan ibu yang sedang berbaring lemah bersamaan dengan air mata yang berleleran keluar dari kedua pelupuk mata laki – laki asing itu. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ibu?” Suaraku seketika membuyarkan suasana. Pandangan ibu dan laki – laki asing itu sontak  mengalihkan fokus mereka kepadaku. Aku hanya bisa mematung di tempat tanpa mengetahui apapun.
“Narni?” Laki – laki asing itu terkejut saat melihatku, tiba – tiba ia berjalan mendekatiku. Matanya yang penuh dengan misteri itu membuatku takut, refleks aku melangkah mundur untuk menjauhinya.
“Berhenti! Anda siapa?” Tanyaku gemetar menahannya agar berhenti untuk mendekatiku.
“Aku, ayahmu. Kau sudah besar sekarang.” Jawabnya sembari tersenyum.
“Ayah? Ayah siapa?” Ujarku sama sekali tidak  percaya.
“Aku ayahmu.” Jawab Laki – laki asing itu berusaha meyakinkan.
“Dia ayahmu, nak.” Ibuku menimpali secara tiba – tiba. Entah kenapa pernyataan ibuku ini membuatku lemas seketika, tidak ada aura kebahagiaan secuilpun muncul dalam diriku. Malah kebencianlah yang tiba – tiba menggantikannya.
“Aku tidak punya ayah selama ini. Kenapa engkau yang hanya orang asing tiba – tiba mengaku sebagai ayahku?” Kebencianku mulai merambah ke sekujur tubuhku
“Maafkan ayah, nak. Selama ini ayah tidak bisa menemani kalian.” Laki – laki asing itu jatuh berlutut di hadapanku. Benar – benar memuakkan.
“Jangan sekali – kali menyebut nama ayah di hadapanku!” Sepertinya kemarahanku sudah mencapai puncaknya. Lagi – lagi aku melangkahkan kakiku mundur untuk menjauhinya.
“Maafkan ayahmu nak. Ibu mohon.” Terdengar lemah suara ibuku yang memohon kepadaku. Tiba – tiba perasaanku luluh seketika saat memandang ibuku yang menangis, raut wajahnya tergambar jelas memintaku untuk memaafkan ayah. Aku tahu, Ibu adalah pribadi yang sangat sabar, dia mendidik kami untuk menjadi pribadi yang kuat sekaligus pemaaf. Tapi apa aku bisa memaafkannya, memaafkan seorang Ayah yang harusnya mendampingi kami dalam menghadapi beratnya hidup, yang harusnya melindungi kami, dan menjadi seorang pemimpin dalam sebuah keluarga, tapi ia tidak melakukannya satupun. Aku jatuh terduduk, tidak kuat menahan beban yang amat menyakitkan ini. Laki-laki itu memeluk tubuh kecil Narni, ia akhirnya menyerah, keinginan terpendam akan hadirnya seorang ayah saat kecil dululah yang menjadi alasannya saat itu.
“Nak, ayah minta maaf. Ayah terpaksa meninggalkan kalian dalam jangka waktu selama ini. Itu murni kesalahan ayah. Ayah harus berjuang membayar hutang yang menumpuk karena perusahaan ayah bankrut, ayah harus merantau dan terpaksa meninggalkan kalian. Tapi sekarang ayah sudah berhasil nak.” Laki – laki yang mengaku sebagai ayah Narni itu mempererat pelukannya. Air mata Narni tumpah ketika keinginan untuk mendapat pelukan seorang ayah itu akhirnya terwujud.
“Ayah sama sekali tidak melupakan kalian. Tanpa kalian ketahui, Ayah benar-benar merindukan kalian, selama 16 tahun ini. Cinta dan kasih sayang ayah tidak akan pudar untuk kalian, percayalah.”
“Maafkan Narni, Ayah.” Ujarku lemas. Ia menyesal, selama ini ia hanya mementingkan egonya sendiri. Dengan gamblangnya ia menghakimi bahwa Ayah yang selama ini ia nanti-nantikan sama sekali tidak mempedulikan kehidupan mereka, tetapi semua dugaan-dugaannya itu ternyata salah besar. Tiba – tiba Ayah melepaskan pelukannya dan menatap Narni lekat – lekat.
“Ayah dengar, Narni ingin jadi dokter, ya?”
Narni mengangguk dengan sedikit terisak.
“Jangan pikirkan biaya lagi. Kejarlah mimpimu setinggi mungkin, sekarang ayah akan selalu mendukung dan berjuang untuk kebahagiaan kalian, untuk anak – anak ayah.”
“Terima kasih, Ayah.” Suasana haru tersebar menyelingi mereka. Dipeluknya lagi ayah yang selama ini ia rindukan, ia berjanji akan selalu menyayanginya.
“Tidak semua kasih sayang seorang Ayah itu harus  benar – benar  tampak di mata anak – anaknya karena kasih sayang seorang ayah itu akan selalu ada untuk kita, walau tersembunyi sekalipun.”
Kalimat terakhir ibu melengkapi suasana haru biru bercampur kebahagiaan siang itu. Keluarga yang dulunya terpisah, sekarang saling berbagi kebersamaan dan ketulusan sebuah  kasih sayang.