Dreaming in حلالا way. . .

Halaman

Cari Blog Ini

Apa sih artinya?

Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2015

[Cerpen] Hujan untuk Ruki


          “Aaa, Hujaan!”
          Seorang gadis remaja terlihat berteriak kegirangan saat didapatinya satu per satu rintik air langit itu jatuh di bumi, rintiknya yang bergantian terdengar berirama, indah sekali. Begitulah yang dipikirkan Rani, nama gadis itu, gadis penyuka hujan.
          “Rani, Kau ini terlalu berlebihan. Ini hanya hujan.” Sosok gadis lain terlihat merespon tingkah Rani yang berubah drastis semenjak buliran-buliran bening yang ia sebut air langit keberuntungan itu datang.
          “Yeni, Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Lihatlah betapa indah dan syahdunya suasana di sini semenjak hujan datang. Rasakan Yeni!”
          Rani semakin menjadi saat di jumpainya buliran itu turun semakin deras. Dipejamkan mata birunya itu kemudian ditarik napasnya perlahan bersamaan dengan sunggingan senyum yang terulas manis di wajahnya, berusaha merasakan aroma hujan yang begitu dirindukannya. Yeni yang melihat reaksi teman sebangkunya tersebut hanya dapat menggeleng keheranan sebelum ia kembali berkutat dengan beberapa soal integral di depannya. Dia memang sudah hafal setiap gerak gerik sahabatnya itu, termasuk antusiasnya ketika hujan datang.
          “Yeni. Ayo kita hujan-hujan.”
          “Eh?” Tawaran Rani baru saja mengaggetkan dirinya, Ia tidak menyangka sahabat satu-satunya itu terlihat begitu gembira hanya karena rintik hujan, “Ahh, tidak. Kamu tidak tahu, kita sedang mengerjakan tugas untuk besok? Lihatllah soalnya begitu rumit, lebih baik kau membantuku saja Yeni. Kau kan jago matematika.”
          Penolakan Yeni membuat teman bicaranya itu memajukan bibirnya beberapa senti. Ekspresinya berubah kesal saat mendengar respon negatif dari Yeni. Melihat sahabatnya yang kehilangan semangat secara tiba-tiba, Yeni menjadi merasa bersalah. Iapun berusaha mendekati dan membujuknya untuk tersenyum kembali.
          “Rani. Coba kamu pikirkan kembali, kita sudah SMP dan sedang berada di lingkungan sekolah. Kamu nggak malu di cap seperti anak kecil saat teman-teman melihatmu hujan-hujan.” Ujar Yeni sedikit berbisik.
          Yeni terdiam, raut wajahnya berubah datar, sepertinya dia sedang menimbang-nimbang kembali saran dari temannya baru saja. Hingga kemudian ia berucap,
          “Aah, padahal aku begitu ingin, sudah lama sekali aku tidak berbaur dengan hujan. Yah, mungkin harus kutunda dulu untuk mengajari temanku satu ini.”
          Jawaban Rani membuat Yeni sumringah, meski ia tahu Rani sangat terpaksa memutuskan hal itu, tapi bukankah itu lebih baik, ketimbang melihat seisi sekolah memandangi seorang siswi SMP bermain hujan-hujanan bak anak kecil. Tidak perlu dibayangkan. Yeni segera mengambil buku yang tergeletak tidak jauh dari posisinya saat itu dan segera menunjukkan beberapa soal yang ia anggap sulit kepada Reni.
          “Mengapa sih kamu suka sekali kepada Hujan?” Tanya Yeni tiba-tiba, di tengah kesibukan Rani mengerjakan  soal-soalnya saat itu.
          Rani menghentikan aktivitas menulisnya, Ia tersenyum, tatapanya berubah teduh saat didongakkan wajahnya memandang rintik hujan yang turun berirama tepat di hadapannya.
          “Hujan itu mengaggumkan. Aku bersyukur atas karunia Tuhan yang satu ini. Amati setiap rintik yang jatuh itu! Bukankah Tuhan memberikan banyak berkah melalui hujan? Ia dapat menentramkan suasana, menyuburkan tumbuhan yang layu, menyegarkan udara dari kepenatan atau polusi, dan masih banyak lagi. Pokoknya semua orang pasti suka hujan.”
          “Kecuali aku.”
          Suara sumbang yang tidak diharapkan itu tiba-tiba membuyarkan suasana syahdu yang menyelimuti raga Rani sebelumnya. Rupanya mndadak muram saat mendengar kalimat yang mengalir di telinganya, sepertinya ia tidak suka. Ia menolehkan wajahnya mencari sumber suara pengganggu itu. Kekecewaannya memuncak saat didapati seorang laki-laki, yang tak lain adalah teman sekelas Rani pula sedang menyilangkan kedua tangannya dengan ekspresi benci, benar-benar jauh dari kata menyenangkan. Cahaya empat bola mata penuh kebencian itu saling bertatapan untuk sesaat.
          “Kenapa? Kamu tidak suka mendengarnya? Kamu tidak suka jika aku mengatakan aku benci hujan?”Laki-laki di hadapan Rani menimpali dengan ekspresi kesal, cukup membuat Rani ingin menampar wajahnya saat itu. Sebelumnya, Rani memang tak pernah menjumpai seorangpun yang menyatakan kebenciannya terhadap hujan hingga sebenci itu. Pendapat mereka pasti sama terhadap Rani, hujan adalah anugerah, tapi ada apa dengan anak ini.
          “Kau yakin dengan kalimatmu baru saja? Memangnya kau bisa hidup tanpa anugerah Tuhan berupa hujan?” Tanya Rani berusaha melawan.
          “Yakin, bahkan sangat yakin! Hujan itu kejam!”
          Kalimat singkat anak itu cukup membuat tangannya mengepal semakin keras hingga ia pun ingin benar – benar menampar wajah tirusnya tadi. Namun sepertinya Rani harus memendam jauh-jauh keinginan buruknya itu, saat anak laki-laki itu kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka.
          “Ada apa sih dengan Ruki?” Tanya Yeni tiba-tiba. Tak ada jawaban dari Rani, ekspresi geramnya masih terpeta jelas di wajahnya. Kepalan kedua tangannya yang semakin keras memaksa Yeni bergerak mundur menjauhinya.
          “Akan ku buat dia menyukai hujan.”
-[]-[]-[]-
          “Yee, akhirnya kita pulang.”
          Sorak sorai seisi kelas terdengar riuh menandakan kebahagiaan mereka menyambut jam pulang. Begitupun dengan Rani dan Yeni, sepertinya suasana hati mereka sudah cukup stabil pasca kejadian menegangkan kemarin, ekspresi ceria dari Renilah yang menandakannya.
          “Yeni, tunggu sebentar. Aku ingin memberikan kabar gembira untukmu.” Ujar Rani menahan tangan Yeni yang sebelumnya sudah berdiri berniat meninggalkan kelas.
          “Ada apa?” Tanya Yeni penasaran sembari memposisikan sikap duduknya kembali.
          “Ssst.. jangan sampai ada yang tahu, tunggu kelas sepi dulu ya.” Ujar Rani tersenyum lebar.
          Rani pun hanya bisa menyetujui permintaan sahabatnya tersebut walaupun sebenarnya ia ingin sekali segera pulang karena awan mendung penanda turun hujan sudah terlihat sejak tadi.
          “Udah sepi nih. Ada apa?”
          Rani mengeluarkan sebuah barang berbentuk batangan bulat berbungkus kain berwarna merah dari tasnya.
          “Hah? Payung? Lalu apa kabar baiknya?” Tanya Yeni masih belum mengerti.
          “Ini payung milik Ruki.” Jawab Reni sembari berbisik ke telinga Yeni,
          “Hah? Mengapa kau ambil?” Refleks Yaniberteriak cukup keras kepada Reni, membuatnya terlonjak kaget.
          “Ssst, jangan keras-keras!” Ujar Reni lalu menutup mulut Yeni untuk mengecilkan volume suara sahabatnya itu. “Aku kan sudah bilang,aku ingin membuatnya menyukai hujan.” Sambung Reni tersenyum, membuat Yani terkaget-kaget untuk kesekian kalinya.
          “Bagaimana bisa?” Reni tidak menjawab pertanyaan terakhir Yani.
          Wajahnya mendadak sumringah saat didengarnya rintik hujan mengetuk atap kelas secara bergantian. Ia menggandeng tangan sahabatnya tersebut dan menariknya keluar. Benar saja, hujan sudah mulai turun sangat deras. Berkebalikan dengan Reni yang terlihat semakin bahagia menyambut hujan, Yani terlihat sedih saat keinginannya untuk pulang lebih cepat terhenti oleh hujan yang pasti akan membuatnya basah kuyup jika ia tetap bersikukuh untuk pulang.
          Dari kejauhan terlihat Ruki sedang berdiri di depan aula sekolah, sepertinya ia terlihat sibuk menggeledah tasnya berulang kali, seperti mencari sesuatu tetapi ia tak kunjung menemukannya. Kepanikan mulai melingkupi raut muka tirus itu, sesuatu itu sepertinya sangat penting untuknya. Reni yang melihat keberadaan Ruki pun hanya terkikik kecil dari kejauhan saat melihat ekspresi Ruki yang pasti sedang mencari payung miliknya.
          “Lihat si Ruki? Sepertinya ia akan basah kuyup hari ini.” Ujar Reni senang berhasil mengerjai Ruki
          “Kau tidak kasihan ya? Dia kan ada kursus hari ini, sepertinya ia akan terlambat jika tidak segera berangkat.”  Ujar Yeni dengan tampang memelasnya, sepertinya Ia menaruh rasa kasihan yang sangat tinggi kepada Ruki saat itu.
          “Mari kita lihat! Berapa lama ia akan bertahan?” Reni menimpali lagi, antusiasnya menjadi-jadi saat ditemui kepanikan Ruki yang bertambah dua kali lipat, dan di luar dugaan, Ruki memaksakan dirinya menerjang hujan deras siang itu tanpa pelindung apapun. Yeni terlihat cemas melihat kondisinya saat itu, rasanya ia ingin sekali menarik tangan Ruki dan melindunginya dari hujan, tapi ia tidak bisa. Tak butuh waktu lama, hujan sudah membuat seragam dan raganya basah kuyup. Bukankah itu sangat buruk untuk kesehatannya? Apalagi bagi hati dan perasaannya yang menyatakan ketidaksukaannya hujan.
-[]-[]-[]-
          “Reni, Hari ini Ruki tidak masuk. Bagaimana kalau dia sakit?” Tanya Yani tiba-tiba dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.
          Benar saja. Hari ini Ruki tidak masuk, sepanjang jam pelajaran, Yani terus menerus dirundung rasa bersalah. Meskipun sepenuhnya bukan Yani yang bersalah karena bukan dia pemicu pencurian payung itu, tapi apapun alasannya Yani juga sudah terlibat di dalamnya dan menyetujui rencana buruk itu.
          “Aku juga tidak tahu.”
          Meskipun Reni terlihat sedikit cuek mendengar keadaan Ruki, tetap saja gurat-gurat kecemasan di wajahnya tidak dapat disembunyikan. Selama ini Reni bukanlah  tipe orang yang lari dari kesalahan bahkan menjadi pemicu kesalahan. Ia adalah orang yang baik. Tapi kebaikannya mulai luntur semenjak kejadian sepele akhir-akhir ini, hanya karena ada orang yang membenci hujan.
          “Ayo, kita jenguk dan minta maaf kepadanya Reni. Jangan sampai hanya dia berbeda pendapat denganmu tentang hujan membuat jarak di antara kalian berdua. Bukankah sebelumnya kalian teman yang akur? Biarkan dia benci, dan biarkan dirimu tetap menyukai hujan. Toh sebenci apapun dia terhadap hujan, tidak akan bisa menghentikan rintiknya bukan?”
          Reni merenung sejenak, mencerna satu per satu kata yang merangkai ucapan Yani baru saja. Kalimat penjelasan dari Yani cukup menyadarkan Reni bahwa ia harus menerima semua tanggapan yang berbeda dari orang lain. Ya, Yani benar, ia tak seharusnya memaksakan Ruki untuk menyukai hujan sama sepertinya. Akhirnya meskipun agak sedikit terpaksa Reni menyetujui ajakan Yeni.
          Sepulang sekolah, mereka pun menunda kepulangan masing-masing demi menjenguk Ruki dan mencari tahu alasan yang menyebabkannya tidak masuk sekolah hari ini. Tak butuh waktu lama untuk menyambangi rumah Ruki, karena jarak rumah anak itu memang tidak terlalu jauh dari sekolah. Suasana Rumah Ruki terlihat sepi, Yani mengetuk pintu kayu rumah tersebut. Tak ada jawaban, diketuknya kembali untuk memastikan keberadaan penghuninya. Hingga akhirnya ganggang pintu di depan mereka bergerak menandakan akan terbuka dan benar saja, terlihat wanita paruh baya tersenyum ramah menyambut mereka.
          “Ibu, Kami teman sekelas Ruki, Hari ini Ruki tidak masuk, jadi kami menjenguknya.” Ujar Yani memulai pembicaraan.
          “Oh begitu, mari masuk.” Sambut Ibu tadi mempersilakan masuk disusul langkah mereka yang mengikutinya dari belakang. Setelah dipersilakan duduk pula, Ibu Ruki mulai mengawali pembicaraan.
          “Ruki jatuh sakit semenjak kemarin malam, mungkin karena kehujanan. Ibu sangat panic melihatnya basah kuyup dan menggigil secara berlebihan. Semenjak ia mengidap phobia terhadap hujan, dia jarang sekali kehujanan bahkan tidak pernah.” Jelas Ibu dengan nada lembut.
          Hah? Phobia? Mereka memandang satu sama lain, kalimat penjelasan Ibu cukup membuat mereka berdua terkejut kembali. Satu per satu pikiran buruk menyambangi otak Reni, ia tidak menyangka  akan jadi seperti ini, Ruki mengidap phobia kepada hujan, dan karena paksaannya Ruki menjadi sakit. Hal itu cukup membuat penyesalan Reni muncul kembali, ditundukkan wajahnya dalam-dalam berusaha menutupi penyesalan atas sikapnya kemarin.
          “Sekarang Ruki di mana bu?” Tanya Yani kemudian
          “Oh dia ada di kamar. Sepertinya kondisinya sudah cukup membaik hanya butuh istirahat saja, silahkan kalau ingin menjenguk.” Ujar Ibu sembari menunjukkan kamar Ruki kepada kami.
          Setelah Ibu mengetuk pintu dan terdengar suara lemah Ruki yang mempersilakan masuk, akhirnya mereka bertiga pun masuk. Kedatangan mereka cukup membuat Ruki kaget, apalagi saat melihat Reni yang masih ragu-ragu untuk mendongakkan wajahnya. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, pikiran dan rasa bersalahnya kepada Ruki. Berat sekali baginya untuk bertemu Ruki karena keadaan mereka yang belum membaik semenjak kejadian itu.
          “Ibu tinggal dulu ya.” Ijin Ibu sebelum beliau pergi meninggalkan mereka berdua di kamar Ruki.
          Mereka terdiam di tempat, tak ada gerak lanjutan yang dilakukan sejak Ibu meninggalkan mereka di kamar Ruki. Mereka tetap saja memandang Ruki yang masih tergeletak di atas ranjang kecilnya itu tanpa keberanian untuk mendekatinya. Rasa bersalah yang teramatlah yang menjadi alasan mereka saat itu.
“Emm, Ada yang ingin kalian sampaikan?” Pertanyaan Ruki baru saja membuyarkan lamunan-lamuna semu mereka, hingga akhirnya dibernaikan langkah mereka unutk mendekati Ruki meski sedikit terpaksa. Merekapun duduk tepat di samping ranjang Ruki, diikuti gerakan Ruki yang bangkit untuk menyandarkan punggungnya di depan tembok.
“Ruki, Bagaimana keadaanmu?”Tanya Yani tergagap-gagap memberanikan diri untuk berbicara.
“Oh, Aku sudah mendingan.” Jawabnya pelan
“Ruki, aku ingin minta maaf soal kejadian itu.” Akhirnya Reni pun memberanikan diri untuk berucap.
Ruki menatap sendu wajah Reni yang masih tidak terlihat karena ia masikh konsisten menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan segala perasaan bersalahnya kepada Ruki.
“Tidak apa-apa. Aku malah berterima kasih kepadamu. Terima kasih telah memaksaku kehujanan, Semenjak kau mengambil payungku, Aku jadi memberanikan diri untuk menghadapi fobiaku terhadap hujan. Itu berguna sekali.” Pernyataan Ruki sontak mengaggetkan Reni. Untuk pertama kalinya didongakkan wajah Reni dan ditatapnya teman laki-lakinya itu. Ia tidak menyangka ruki mengetahui niat buruk darinya saat mencuri payung milik Ruki.
“Kau sudah tahu Ruki?” Ujar Reni dengan mulut sedikit bergetar. Rasanya ia malu sekali berjumpa dengan ruki saat itu apalagi menatapnya.
“Aku mengetahui dirimu yang mengambil payungku saat seisi kelas sedang berolahraga. Saat itu aku ingin mengambil minum di kelas, tapi ku urungkan niatku seketika, karena aku tidak ingin menggagalkan rencanamu itu.” Jawab Ruki dengan sedikit bercanda. Candaan yang sama sekali tidak membuat hati Reni terhibur tapi malah semakin mempermalukannya.
“Taukah kalian mengapa aku begitu membenci hujan sebelumnya?” Tanya Ruki, tiba-tiba wajahnya berubah serius melenyapkan candaan yang ia buat baru saja. Mereka menggeleng pelan.
“Hujan sudah merenggut seseorang yang sangat berarti untukku, Ayahku.” Mereka terdiam sesaat, masih belum bisa menangkap maksud penjelasan Ruki baru saja, hingga iapun melanjutkan pembicaraannya, “Saat itu hujan turun begitu deras bahkan sangat deras, hujan turun berhari-hari hingga mampu memecah bendungan di desaku. Pada saat yang sama pula, aku sedang berada di dalam rumah. Kami begitu panik, tapi Ayahku segera membawa aku dan Ibu ke dalam mobil yang jauh-jauh hari sebelum bencana itu disiapkan oleh tetangga kami, kami memang sudah menduga bendungan itu tidak akan kuat menahan derasnya air. Tapi, Tetangga kami begitu terburu-buru unutuk segera menyelamatkan jiwa raga kami, hingga ia pun tak menggubris Ayah yang tiba-tiba berbalik arah menuju rumah untuk membawa beberapa dokumen penting. Namun sayang, Air bah itu muncul lebih cepat dibanding langkah ayah untuk menyelamatkan diri. Dan akhirnya..” Ruki menghentikan penjelasannya, ia tmengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya, rasanya sakit sekali saat ia harus mengingat kembali kenangan buruk yang mati-matian ingin sekali dihilangkannya.
Sebelum akhirnya keheningan benar-benar menyelimuti suasana siang itu. Tak ada kata yang terucap, Reni begitu terkejut saat mendapati alasan dibalik kebencian Ruki terhadap Hujan. Ia semakin menyalahkan dirinya sendiri . Mengapa ia begitu bodoh saat itu? Tega-teganya ia menghakimi Ruki tanpa alasan yang logis. Bagaimana bisa Reni memaksanya untuk menyukai hujan yang telah memberi kenangan buruk baginya?
          “Ruki, aku minta maaf. ” Reni meraih tangan Ruki dan mengenggamnya erat. Ia benar-benar menyesal saat itu.
          “Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu, Aku mengambil banyak hikmah dari kejadian ini. Setidaknya aku sedikit mulai menerima semua takdir ini, takdir bahwa Tuhanlah yang merencanakan semua ini, termasuk kematian Ayah. Aku juga sadar bahwa hujan adalah anugerah sama seperti yang kau katakan, dan Aku menarik kata-kataku dulu, Aku pun pasti tak bisa hidup tanpa hujan. Karena yang membuat bencana adalah kesalahan manusia, dan takdir Tuhan itu pastilah yang paling baik. Sepertinya kau sudah hampir mencapai tujuanmu, Reni.”
          “Hah?” Reni menangkap cahaya mata dari Ruki yang sedang tersenyum menatapnya pula.
          “Sepertinya aku mulai menyukai hujan sama sepertimu, Reni.”
          Reni tertergun mendengarnya, tak ada kata yang terucap untuk merespon pernyataan yang berhasil membuatnya termangu cukup lama. Ia tidak tahu pasti apa yang sedang dirasakannya saat itu, kebahagiaan atau kesedihan? Sepertinya dia terjebak pada tempat yang sama. Sekuat tenaga, ditahannya air mata yang sudah berkumpul di pelupuknya.    
          Ditundukkan wajahnya untuk kesekian kalinya, Ia mengucapkan beribu-ribu maaf  kepada Ruki, Reni sadar ia tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai hujan sama sepertinya. Tapi ia juga sadar, mereka yang membenci hujan pasti akan menyukainya seiring berjalannya waktu, seperti Ruki. Ya karena hujan adalah anugerah dan hal itu tidak dapat dipungkiri.
 -End-
  Comments and Cirtics are LOVED :D

Minggu, 19 Agustus 2012

[FF] You're my Friend -Part 5/End-

Title                 : You are my friend
Author             : ちょゆき 
Chapter           : 5/5
Genre              : Friendship | Tragedy | Hurt | Family | Angst |Drama
Fandom           : (My) Original Character (Hime, Yuri, Mirai, Cho, Ayah dan Ibu Hime, Polisi,                                Mr.Tsuzuke)
Rated              : NC - 13
Summary        : Karena kamu adalah temanku . . .
Warning          : Author masih pemula diksinya dari dulu sampai sekarang masih membosankan + makin Alay karena kelamaan hiatus, tapi Fic ini penuh emosi *menurutku*.
Note                :  saya kembali ke dalam dunia asliku, menyenangkan sekali. FF lanjutan sebulan yang lalu tepatnya pas bulan Ramadhan. Sebenarnya aku mau nulis lagi juga gara – gara dibujuk sama tuh.. Dita, Ar, sama si Kiki dan yang lainnya *kayak ada yang baca :P* yang dari dulu udah nyuruh – nyuruh, tapi baru kubuatin sekarang, Maaf sekali, Maaf jika tidak memuaskan. Karena saya udah terlanjur janji, jadinya belajar gak tenang, makan gak tenang, mandipun gak tenang, buru – buru akan kulunasi hutang saiia, hehehe 


- Dedicated to all of my friends who always read my stories. Thank you so much^^ -


>>>> Cerita sebelumnya :

Ketika ia sudah mulai dekat dengan ruangan ayahnya, kira – kira hanya berjarak 5 meter, terdengar suara ribut dari ruangan ayah. Hime terlonjak kaget, dan mendadak takut kalau terjadi apa – apa dengan ayahnya. Saat ia berniat memasuki ruangan ayahnya, ia menghentikan langkahnya saat mengetahui pintu akan dibuka seseorang dari dalam. Hime segera menyembunyikan tubuhnya itu di balik dinding tidak jauh dari sana, sembari mengintip sedikit untuk menjawab rasa penasarannya dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Ketika pintu sudah sepenuhnya terbuka, ia melihat ayahnya pingsan tak berdaya bersama tali yang mengikat tangan dan kakinya. Ia dibopong oleh beberapa orang bertubuh kekar.

Ayah diculik?

Kepanikan menyeruak dari hati Hime, ia takut, jikalau ayah dalam bahaya. Namun, untuk saat ini ia tak mungkin menolongnya, karena dia hanya sendiri. Ketika ada satu orang yang keluar paling akhir, sepertinya tidak asing lagi bagi Hime. Ia ingin sekali mengetahui siapa sosok di balik ini semua, dan betapa terkejutnya ia, saat orang itu menolehkan wajahnya ke arah Hime, guna mengecek keadaan. Hime langsung membalikkan tubuhnya untuk bersembunyi saat ia mengetahui bahwa orang itu,

Mr. Tsuzuke?

**>


Melihat kejadian itu, Hime segera menghubungi kantor polisi, dan menyarankan agar segera datang ke lokasi kejadian dimana ayah Hime bekerja. Tetapi, segerombolan orang itu, malah membawa Ayah Hime keluar melalui belakang kantor, sebuah pintu yang sangat terpencil dari kantor yang terbilang luas itu. Sehingga membuat Hime harus mengendap – endap mengikuti mereka.

Flashback end ~~~~~

“Lalu, apa yang terjadi tante Mirai?”

“Ayahnya dibunuh.”

“Ha?”

“Iya. Untungnya polisi bergerak cepat dan dapat menangkap ayah Cho beserta anak buahnya. Namun sayangnya ayah Hime tidak dapat diselamatkan. Dan yang lebih memilukan adalah Cho tidak datang di pemakaman ayahnya. Hubungan mereka menjadi retak semenjak kejadian ini.”

Flashback

Hime masih belum mempercayai kenyataan pahit ini. Pandangannya kosong, bagaikan tidak bekerja sama sekali, tak ada satupun airmata yang menetes. Otaknya terus saja memutar memori paling menyakitkan selama ia hidup. Bahkan tregedi itu terlalu menyakitkan untuk ditanggung anak seumurannya.

Sementara di sudut lain, ibu Hime menangis sangat kencang sembari memberontak di samping jasad suaminya yang sudah terbujur kaku tertutup kain kafan itu. Apa yang akan Hime lakukan setelah ini? Apa dia bisa hidup tanpa ayahnya? Salah satu orang yang paling ia sayangi di dunia ini pergi untuk selamanya.

5 days later . . .


Apakah ini cobaan terbesar di hidupku? Haruskah aku menanggung semua beban ini sendirian?

Jumat, 20 Juli 2012

[FF] You are my Friend -Part 4-


Title                 : You are my friend
Author             : ちょゆき
Chapter           : 4/?
Genre              : Friendship | Tragedy | Hurt | Family | Angst |Drama
Fandom           : (My) Original Character (Hime, Yuri, Mirai, Aya, Cho, Ve)
Rated              : NC - 13
Summary        : Karena kamu adalah temanku . . .
Warning          : Author masih pemula diksinya dari dulu sampai sekarang masih membosankan + makin Alay karena kelamaan hiatus, tapi Fic ini penuh emosi *menurutku*.
Note                : Yappa >o<’’, saya kembali ke dalam dunia asliku, menyenangkan sekali. Sepertinya ini FF terakhir sebelum puasa. Sebenarnya aku mau nulis lagi juga gara – gara dibujuk sama tuh.. Dita, Ar, sama si Kiki dan yang lainnya *kayak ada yang baca :P* yang dari dulu udah nyuruh – nyuruh, tapi baru kubuatin sekarang, Maaf sekali, Maaf jika tidak memuaskan. Karena saya udah terlanjur janji, jadinya belajar gak tenang, makan gak tenang, mandipun gak tenang, buru – buru akan kulunasi hutang saiia, hehehe.


- Dedicated to all of my friends who always read my stories. Thank you so much^^ -



Happy Reading ^^




~~~~Hime . . . 14 years  old~~~         ~


THE TRAGEDY


Persahabatan Hime dan Cho semakin akrab, ketika kedua orang tua mereka menjalani suatu kerja sama di dalam salah satu bisnis yang amat menjanjikan. Kebetulan mereka adalah kepala perusahaan besar di Jakarta dan tanpa disengaja, kedua perusahaan sedang menangani suatu proyek yang sama. Mereka menjalani proyek dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit *ngawur xD*. Hanya saja, perusahaan ayah Himelah yang lebih mendominasi, awalnya kerja sama mereka berjalan dengan baik, namun bulan demi bulan, terlihat suatu kejanggalan terjadi pada ayah Cho.

Ayah Cho yang bernama Mr. Tsuzuke itu akhir – akhir ini dicurigai oleh beberapa bawahan dari ayah Hime, Mr. Tetsuya. Tapi, mereka tidak berani mengatakan fakta ini kepada Mr. Tetsuya karena takut dianggap tidak menghormati atasan mereka. Merekapun hanya menganggapnya angin lalu.


~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~


“Bagaimana rencana kita?”

Seorang lelaki berjas hitam sedang memandang keluar jendela siang itu, di sebuah ruangan yang cukup besar dan penuh dengan tumpukan buku hingga peralatan kantor yang terletak di atas meja. Memang benar laki – laki  ini adalah seorang pemilik perusahaan.

“Sepertinya akan berhasil, rencana sudah kami persiapkan secara matang.”

“Bagus. Proyek ini harus menjadi milik kita sepenuhnya.”

“Baik, Mr. Tsuzuke.”

Untuk yang pertama kalinya pria berjas hitam bernama Mr. Tsuzuke itu berbalik dan menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.


~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~


“Ohayou!”

Seorang perempuan muda berlarian kecil menuruni tangga rumahnya menuju meja makan. Ia terlihat sangat ceria pagi itu ketika menyambut kedua orang tuanya.

“Ohayou Hime-san, ayo segera sarapan!” Ucap ibu Hime yang terlihat sibuk menyiapkan beberapa makanan di atas meja.

“Hai.” Ucap Hime segera mengambil tempat duduk dan bersiap – siap menyantap makanan.

“Hime, hari ini libur bukan? Kau ingin melakukan apa?” Tanya Ayah Hime.

“Emm, aku belum terfikir sih, Ayah,” Ucap Hime di sela – sela makannya.

“Bgaimana kalau ikut ayah bekerja?”

“Ha? Boleh?”

“Tentu saja, daripada kamu suntuk di rumah?”

“Asyik!” Ucap Hime senang.

“Ayo berangkat, kau sudah mandi bukan?”

“Sudah dong. Ibu, aku ikut ayah ya?” Pamit Cho.

“Baiklah, hati – hati di sana.”

Kamis, 19 Juli 2012

[FF] You are My Friend -Part 3-


Title                 : You are my friend
Author             : ちょゆき
Chapter           : 3/?
Genre              : Friendship | Tragedy | Hurt | Family | Angst |Drama
Fandom           : (My) Original Character (Hime, Yuri, Mirai, Aya, Cho, Ve)
Rated              : NC - 13
Summary        : Karena kamu adalah temanku . . .
Warning          : Author masih pemula diksinya dari dulu sampai sekarang masih membosankan + makin Alay karena kelamaan hiatus, tapi Fic ini penuh emosi *menurutku*.
Note                : Yappa >o<’’, saya kembali ke dalam dunia asliku, menyenangkan sekali. Sepertinya ini FF terakhir sebelum puasa. Sebenarnya aku mau nulis lagi juga gara – gara dibujuk sama tuh.. Dita, Ar, sama si Kiki dan yang lainnya *kayak ada yang baca :P* yang dari dulu udah nyuruh – nyuruh, tapi baru kubuatin sekarang, Maaf sekali, Maaf jika tidak memuaskan. Karena saya udah terlanjur janji, jadinya belajar gak tenang, makan gak tenang, mandipun gak tenang, buru – buru akan kulunasi hutang saiia, hehehe.


- Dedicated to all of my friends who always read my stories. Thank you so much^^ -



Happy Reading ^^



~~~~Hime . . . 10 years old~~~         

Ahhh, kepalaku sakit sekali. Kelopak mataku masih sangat sulit untuk dibuka, sekujur tubuhku mulai terasa nyeri saat aku mencoba menggerakkannya. Namun walaupun terasa berat, akhirnya aku dapat melihat seluruh keadaan di sekitarku, walaupun dengan pandangan yang sedikit kabur.

Aku  dimana?

Tanda Tanya besar muncul di otakku, Tepatnya rasa penasaranku yang menyeruak saat ingin mengetahui keberadaanku sekarang. Hanya ada pohon – pohon besar yang mengelilingiku, seperti sebuah hutan? Tapi kenapa aku bisa sampai di sini? Saat ku lihat seluruh tubuhku, banyak sekali luka yang terlihat. Saat aku mencoba menelaah lebih jauh, aku menemukan diriku di sebuah hutan, kali ini aku benar – benar yakin, dan sekarang, di sebuah jurang?

“Apa yang terjadi?”

“ Hime ,  Hime, Hime. Disana!!!”

Tiba – tiba terdengar panggilan dari banyak orang yang menyebut satu nama secara berulang – ulang bernada sangat panik.

“Hime!!!!! Kami akan menolongmu.”

Kini salah satu wanita muda di antara mereka melihat ke bawah tepatnya ke dalam sebuah jurang yang cukup dalam sambil berteriak seolah member peringatan tepatnya pertolongan kepada sosok di bawah sana, sosok yang bernama ‘Hime’.

“Hime, kau tidak apa – apa?”

Kini wanita muda dengan postur tubuh yang hampir sama dengan Hime menghampirinya dan langsung sibuk mengecek keseluruhan tubuh Hime, memastikan bahwa keadaannya baik – baik saja.

“Ahh, kau terluka. Sebaiknya harus segera diobatkan.”

Rabu, 18 Juli 2012

[FF] You are my friend -Part 2-

Title                  : You are my friend
Author             : ちょゆき 
Chapter           : 2/?
Genre              : Friendship | Tragedy | Hurt | Family | Angst |Drama
Fandom           : (My) Original Character (Hime, Yuri, Mirai, Aya, Cho, Ve)
Rated              : NC - 13
Summary        : Karena kamu adalah temanku . . .
Warning          : Author masih pemula diksinya dari dulu sampai sekarang masih membosankan + makin Alay karena kelamaan hiatus, tapi Fic ini penuh emosi *menurutku*.
Note                : Yappa >o< saya kembali ke dalam dunia asliku, menyenangkan sekali. Sepertinya ini FF terakhir sebelum puasa. Sebenarnya aku mau nulis lagi juga gara – gara dibujuk sama tuh.. Dita, Ar, sama si Kiki dan yang lainnya *kayak ada yang baca :P* yang dari dulu udah nyuruh – nyuruh, tapi baru kubuatin sekarang, Maaf sekali, Maaf jika tidak memuaskan. Karena saya udah terlanjur janji, jadinya belajar gak tenang, makan gak tenang, mandipun gak tenang, buru – buru akan kulunasi hutang saiia, hehehe.



- Dedicated to all of my friends who always read my stories. Thank you so much^^ -



Happy Reading ^^



Sudah 2 hari, semenjak pertengkaran itu terjadi, Hime tidak masuk sekolah. Sebegitu rapuhnya dia akibat perkataan yang dilontarkan oleh Yuri kala itu? Hingga saat ini pun, Yuri terus saja dihinggapi rasa cemas dan bersalah, dia harus segera memperbaiki hubungannya agar tidak semakin retak bahkan tidak bisa dieratkan lagi. Siang itu, sepulang sekolah Yuri berniat datang kembali ke rumah Hime untuk memastikan keadaannya apakah masih baik – baik saja.

Yuri berjalan menyusuri jalan beraspal itu dengan sedikit rasa cemas. Membayangkan apa yang bakal terjadi ketika di hadapannya sekarang adalah seorang Hime, yang tempo hari benar – benar meluapkan kemarahannya kepada Yuri. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan, saat kaki dan raganya sudah mulai mendekati rumah Hime. Seperti biasa, sederet gerbang yang teramat tinggi bahkan sangat tinggi itu sudah menyambut kedatangan Yuri. Hanya ini satu – satunya pintu masuk ke rumah Hime tersebut.

“Ting . . .Tong . . .”

Yuri menekan tombol berbentuk bulat putih di samping gerbang, berharap masih ada orang yang mau mengijinkannya masuk. Tak lama setelah itu, terdengar suara decitan gerbang menandakan ada orang yang sengaja membuka gerbang. Sesegera mungkin Yuri bersiap untuk menerima semua resiko atas dirinya sendiri.

Namun di luar dugaan, di depannya sekarang hanya muncul seorang wanita yang lebih tua dari dirinya, mengenakan baju yang cukup mewah, perawakannya juga sangat cantik dan kulitnya itu putih bersih jika dilihat dari usianya yang terlihat sudah tua. Sepertinya dia keturunan cina, korea, atau jepang.

“Aaa, Dare o osagashi desu ka?
“Ah, Hajimemashite, Yuri desu.”
“Hajimemashite. Yuri-san, ada keperluan apa?”

Sekarang Yuri agak terheran – heran ternyata wanita yang dikiranya orang asing ini bisa bicara bahasa Indonesia.

“Sumimasen, Saya temannya Hime, bisa bertemu dengannya sekarang?”

“Hime? Oh, mari masuk dulu, Hime sedang keluar sebentar tadi.”

“Kemana?”

“Sebaiknya kau masuk dulu.”

“Baiklah.”

Yuri segera mengikuti saran wanita itu. Dia masih penasaran, apakah hubungan wanita ini dengan Hime? Belum pernah Yuri melihat wanita ini di rumah Hime sebelumnya. Yuri dibawa ke ruang tamu di rumah yang sudah pernah ia kunjungi sebelumnya.

“Silahkan duduk.”

“Iya.”

Yuri menuruti wanita itu.

“Jadi kau ini temannya Hime?” Ucap wanita itu memulai pembicaraan.

“Iya. Maaf kalau boleh tau, anda siapa?” Tanya Yuri penasaran.

“Oh, perkenalkan namaku Mirai, aku tantenya Hime.”

“Oh, begitu. Ngomong – ngomong, Hime sedang pergi kemana?”

“Kalau jam saat ini, Paling dia sedang berada di panti asuhan.”

Yuri terheran – heran dengan pernyataan tante Mirai kali ini. Panti asuhan? Apa yang Hime lakukan di sana. Sepertinya sangat mustahil jika seorang Hime yang terkenal egois itu berada di sana.

Selasa, 17 Juli 2012

[FF] You are My Friend -Part 1-

Title                 : You are my friend
Author             : ちょゆき
Chapter           : 1/?
Genre              : Friendship | Tragedy | Hurt | Family | Angst |Drama
Fandom           : (My) Original Character (Hime, Yuri, Mirai, Aya, Cho, Ve)
Rated              : NC - 13
Summary        : Karena kamu adalah temanku . . .
Warning          : Author masih pemula diksinya dari dulu sampai sekarang masih membosankan + makin Alay karena kelamaan hiatus, tapi Fic ini penuh emosi *menurutku*.
Note                : Yappa >o<’’, saya kembali ke dalam dunia asliku, menyenangkan sekali. Sepertinya ini FF terakhir sebelum puasa. Sebenarnya aku mau nulis lagi juga gara – gara dibujuk sama tuh.. Dita, Ar, sama si Kiki dan yang lainnya *kayak ada yang baca :P* yang dari dulu udah nyuruh – nyuruh, tapi baru kubuatin sekarang, Maaf sekali, Maaf jika tidak memuaskan. Karena saya udah terlanjur janji, jadinya belajar gak tenang, makan gak tenang, mandipun gak tenang, buru – buru akan kulunasi hutang saiia, hehehe.


- Dedicated to all of my friends who always read my stories. Thank you so much^^ -



Happy Reading ^^



Persahabatan itu tak ternilai harganya
Tidak ada yang namanya mantan sahabat atau teman
Karena kalianlah pelengkap hidupku
Penyemangatku dan pelindungku
Kenangan bersama kalian adalah yang terindah
Kebersamaan itu akan selalu kuingat
Aku cinta kalian…



***

.Dimana saatnya kita merasa kehilangan atas seseorang atau beberapa orang, terpaksa meninggalkan mereka karena tuntutan dan kewajiban demi cita – cita dan mimpi. Meninggalkan masa – masa indah itu tanpa bisa kembali, tapi masa itulah yang takkan pernah hilang, selalu menjadi kenangan terindah dan paling indah, cintailah sahabatmu sayangilah mereka ketika engkau masih bersama, peluk erat bersama mimpi – mimpi itu^^…




“Plok, Plok, Plok.”



Tepuk tangan terdengar riuh mengisi ruangan kelas ketika Ve selesai membaca salah satu ceritanya. Dia membungkukkan badan sejenak kemudian mengangkatnya kembali sebagai rasa terima kasih. Kemudian ia berjalan perlahan menuju bangkunya, kemudian kembali mendengarkan gurunya.



“Baiklah itu salah satu contoh cerita yang bisa disebut cerita pendek, dan sepertinya jam pelajaran sudah akan berakhir. Kita lanjutkan besok lagi, Sayounara!”



“Sayounaraaa….”



Jawab semua murid ketika Ruki-sensei menutup pertemuan itu dengan semangat, diikuti semua siswa  yang terlihat sibuk dengan segala aktivitas mereka akhir sekolah.  Begitupun dengan wanita yang duduk satu meja di belakang Ve. Wanita manis itu sibuk merapikan segala peralatan sekolahnya yang tergeletak di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam tas pink nya itu. Siapa sangka, wanita yang terlihat sangat anggun itu mempunyai watak yang tak disukai oleh beberapa orang temannya. Begitu juga dengan teman sebangkunya, walaupun mereka kelihatan akrab, tapi teman sebangku wanita itu yang tak lain bernama Yuri itu menyimpan luka yang tak terlihat tapi sangat bisa dirasakan. Namun ia hanya diam, ia tak ingin menyakiti temannya itu.

“Sampai jumpa besok Hime.” Ucap Yuri sembari melukiskan sedikit senyuman kecil di wajahnya.

“Yup.”

Seperti biasanya Hime hanya menjawab singkat tanpa ekspresi kemudian berlalu tanpa meninggalkan pesan. Apa dia selalu seperti itu? Yuri hanya terdiam dan seolah sudah terbiasa dengan sikap temannya tersebut. Sudah 1 tahun mereka bersama duduk di bangku SMA ini. Namun sikapnya yang tidak menyenangkan itu membuatnya tidak memiliki banyak teman, tapi tidak untuk Yuri. Beruntung sekali Hime memiliki teman yang menerimanya apa adanya.

Teman yang baik itu selalu mengerti keadaan temannya, menerima segala kekurangan dan kelebihan tanpa keluhan sedikitpun, walau terkadang menyakitkan.

Hime berjalan perlahan, sendirian. Dia selalu begitu, tak asing bagi semua warga sekolah melihatnya sendirian, namun menjadi sangat mengherankan jika ia dikelilingi banyak orang. Ia mempercepat langkahnya untuk keluar dari gerbang. Jemputan ternyata sudah menunggu di depannya, Hmmm… Dia memang anak orang kaya, setiap hari selalu di antar kemudian dijemput oleh sopirnya, bahkan kemanapun ia pergi.

Setelah beberapa menit perjalanan, mereka sampai di sebuah rumah megah bercatkan putih yang terlihat mendominasi. Taman yang luas penuh dengan pepohonan bahkan terlihat seperti perkebunan jika terlihat dari luar. Hime turun dari mobilnya kemudian memasuki rumah megah itu yang merupakan rumahnya sendiri.

Sepi. Sungguh aneh jika orang yang belum terlalu mengenalnya beserta seisi rumahnya yang terkesan serba mewah itu namun terasa mempunyai nuansa seperti rumah kosong. Tidak bagi Hime, ia sudah terbiasa dengan kondisi rumah yang didiaminya sejak ia kecil itu. Dia menaruh tasnya di atas sofa dan merebahkan badannya di sana. Kemudian mengambil remote disampingnya dan menekan tombol power untuk menyalakan TV layar datar di depannya itu. Ia memejamkan matanya seperti tertidur.


~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~/\~


“Ahh, Hime, Maaf.”

Salah satu siswa di kantin itu sibuk membersihkan baju seragam Hime yang terkena noda kecap menggunakan sapu tangannya. Ekspresinya terlihat sangat panik bersamaan dengan tangannya yang sedikit bergemetar saat menyentuh baju seragam Hime.

‘Prakkk’