Apa sih artinya?
Jumat, 24 Mei 2013
DELUHI - Hoshi no nai yoru ni (星の無い夜に) -English translate-
あの頃の二人は死んだんだよ どんなに想っても
ano gorono futari ha shin dandayo donnani omotte mo
もう帰れない 変えられない事だけれど 何度も…
mou kaere nai kae rarenai koto dakeredo nando mo ...
囀る風も 香る木漏れ日も 全てはあの日から色付き出した
saezuru kaze mo kaoru ki more nichi mo subete haano nichi kara iroduke ki dashi ta
幾度と季節 感じられるよ ただ 傍にあなたが居ない
ikudo to kisetsu kanji rareruyo tada bou nianataga ina i
そして僕はまた歩き出す
soshite bokuha mata aruki dasu
そう あなたの終わりを背に
sou anatano owari wo se ni
小さな願いずっと
chiisa na negai zutto
覚えているから 笑顔で居るから
oboe teirukara egao de iru kara
届け二人を繋ぐ星の無い夜に
todoke futari wo tsunagu hoshi no nai yoru ni
当たり前の日々がありふれた喜びが輝いて見えて
atarimae no hibi gaarifureta yorokobi ga kagayai te mie te
もう戻れない 戻らない事だけれど 何度も…
mou modore nai modora nai koto dakeredo nando mo ...
今触れたい もう一度触れたい 静かに目を閉じたままの
ima fureta i mou ichido fureta i shizuka ni me wo toji tamamano
冷たい頬が 痩せた身体が こんなにも 悲しいほど美しいから
tsumeta i hoo ga yase ta shintai ga konnanimo kanashi ihodo utsukushi ikara
そして僕はまた歩き出す
soshite bokuha mata aruki dasu
そう あなたの終わりを背に
sou anatano owari wo se ni
あなたとの想い出少しここに置いていくから
anatatono omoide sukoshi kokoni oi teikukara
忘れないように
wasure naiyouni
I’ll always love you…
I ' ll always love you ...
生きると言う事は失うと言う事 あなたも僕も
iki ruto iu koto ha ushinau to iu koto anatamo boku mo
生きると言う事は失うと言う事 だから最期に伝えたい
iki ruto iu koto ha ushinau to iu koto dakara saigo ni tsutae tai
あなたと共に生きれて良かった
anatato tomoni iki rete yoka tta
確かな証の中で
tashika na shou no naka de
その声と 柔らかな笑顔と 呼び合う事
sono koe to yawara kana egao to yobi au koto
もう出来ないけれど
mou dekina ikeredo
そして僕はまた歩き出す
soshite bokuha mata aruki dasu
そう あなたの終わりを背に
sou anatano owari wo se ni
小さな願いずっと
chiisa na negai zutto
覚えているから 笑顔で居るから
oboe teirukara egao de iru kara
届け 二人を繋ぐ ()
todoke futari wo tsunagu hoshi no nai yoru ni
TRANSLATION :
The two of us from that time are dead, no matter how much we think back
we can no longer return, though it’s something that can’t be changed, so many times…
The warbling wind, the fragrant sunshine streaming through the trees,
since that day they’ve all changed colors,
I’ve been able to feel the seasons so many times, but you’re not by my side
And once again I walk
That’s right, because with your end in the background
I’ll always remember that small wish,
I’ll have a smile on my face,
so please reach on this starless night that connects the two of us!
The familiar happiness of those ordinary days seems to shine
but we can no longer go back, though it’s something that can’t be undone, so many times…
Now I want to touch you, I want to touch you one more time,
’cause your cold cheeks, your slim body
I see with my eyes closed quietly is so beautiful it just breaks my heart
And once again I walk
That’s right, because with your end in the background
I’ll place a few of my memories with you here,
so that I won’t forget
I’ll always love you…
To live is to lose, both you and I
To live is to lose, so in the end I want to tell you
I’m happy I was able to live alongside you,
amidst certain proof
that voice and gentle smile and calling out to each other,
even though we can’t do that anymore,
And once again I walk
That’s right, because with your end in the background
I’ll always remember that small wish,
I’ll have a smile on my face,
so please reach on this starless night that connects the two of us!
YUI – Blue wind (Indonesian translate)
YUI – Blue wind
Album: FROM ME TO YOU
Romaji
Naze? Anata wa sonna Fuu ni katarun darou?
Damatteru konna atashi ni…
Kibou datte kitto Anata yori tsuyoku motteru
Kotoba ni wa dekinai
Nagusame ni kite iru tsumori na no ka na?
…arigato
YOU anata ga itta JOOKU hitotsu mo warae nakatta
YOU demo yasashi kata Anata no koto ga wakatta
Hatsumeika wa erai hito dato oshierareta
Doryoku suru mono wo umidasu
Demo sore ni muraga tte yuku hito-tachi koso
Kashikokute nagaiki da
Kuyashikute nai tari suru nomo chigau
…kaze no na ka
YOU anata ga itta Kami-sama wa kitto miteru yotte
YOU hajimete waraeta Motto ki no kiita koto itte yo
Hajimete tsukutta uta
Tokidoki hitori kuchizusamu
Wasure sou ni nattara
Ano hi no atashi wo sagasu no
Datte tadoritsukitai basho wa
…kawara nai
YOU anata ga itta Kami-sama no hanashi mo ima wa
YOU shinjite miru yo Utau koto shika dekinai
mou daijoubu yo
Atashirashiku ikite iyou
Terjemahan Indonesia
Kenapa? Kenapa kau berbicara seperti itu?
Saat aku tak mengatakan apapun
Aku percaya harapanku pasti lebih kuat daripadamu
Tapi aku tak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata
Bukankah kau datang untuk membuatku nyaman?
Terima kasih..
Kau, aku tak bisa tersenyum pada lelucon yang kau ucapkan
Kau, tapi aku tahu kau melakukannya agar terlihat baik
Aku telah mempelajari bahwa penemu adalah orang hebat
Mereka berusaha menciptakan hal yang membantu kita
Tapi mereka sebenarnya adalah kerumunan orang pintar
yang berharap untuk hidup panjang
Bahkan air mata penyesalan itu berbeda
di dalam angin…
Kau, kau bilang Tuhan pasti memperhatikan kita
Kau, tersenyum pertama kalinya, mengatakan hal yang masuk akal
Kadang aku sendirian menyanyikan
Lagu yang pernah aku tulis
Jika aku mulai lupa
Aku akan mencari diriku yang dulu
Tapi tempat yang ingin aku kunjungi
tak ada yang berubah…
Kau, sekarang aku akan mencoba untuk percaya pada apa yang kau katakan tentang Tuhan
Kau, yang bisa aku lakukan hanyalah bernyanyi
Tidak apa-apa..
Aku akan hidup dengan caraku..
Source : Indonesia Love YUI
Album: FROM ME TO YOU
Romaji
Naze? Anata wa sonna Fuu ni katarun darou?
Damatteru konna atashi ni…
Kibou datte kitto Anata yori tsuyoku motteru
Kotoba ni wa dekinai
Nagusame ni kite iru tsumori na no ka na?
…arigato
YOU anata ga itta JOOKU hitotsu mo warae nakatta
YOU demo yasashi kata Anata no koto ga wakatta
Hatsumeika wa erai hito dato oshierareta
Doryoku suru mono wo umidasu
Demo sore ni muraga tte yuku hito-tachi koso
Kashikokute nagaiki da
Kuyashikute nai tari suru nomo chigau
…kaze no na ka
YOU anata ga itta Kami-sama wa kitto miteru yotte
YOU hajimete waraeta Motto ki no kiita koto itte yo
Hajimete tsukutta uta
Tokidoki hitori kuchizusamu
Wasure sou ni nattara
Ano hi no atashi wo sagasu no
Datte tadoritsukitai basho wa
…kawara nai
YOU anata ga itta Kami-sama no hanashi mo ima wa
YOU shinjite miru yo Utau koto shika dekinai
mou daijoubu yo
Atashirashiku ikite iyou
Terjemahan Indonesia
Kenapa? Kenapa kau berbicara seperti itu?
Saat aku tak mengatakan apapun
Aku percaya harapanku pasti lebih kuat daripadamu
Tapi aku tak bisa mengungkapkannya dalam kata-kata
Bukankah kau datang untuk membuatku nyaman?
Terima kasih..
Kau, aku tak bisa tersenyum pada lelucon yang kau ucapkan
Kau, tapi aku tahu kau melakukannya agar terlihat baik
Aku telah mempelajari bahwa penemu adalah orang hebat
Mereka berusaha menciptakan hal yang membantu kita
Tapi mereka sebenarnya adalah kerumunan orang pintar
yang berharap untuk hidup panjang
Bahkan air mata penyesalan itu berbeda
di dalam angin…
Kau, kau bilang Tuhan pasti memperhatikan kita
Kau, tersenyum pertama kalinya, mengatakan hal yang masuk akal
Kadang aku sendirian menyanyikan
Lagu yang pernah aku tulis
Jika aku mulai lupa
Aku akan mencari diriku yang dulu
Tapi tempat yang ingin aku kunjungi
tak ada yang berubah…
Kau, sekarang aku akan mencoba untuk percaya pada apa yang kau katakan tentang Tuhan
Kau, yang bisa aku lakukan hanyalah bernyanyi
Tidak apa-apa..
Aku akan hidup dengan caraku..
Source : Indonesia Love YUI
An impressive POSTER
Haloo :)
Lama tidak ngepost,
kali ini hanya ingin menampilkan karya dari kelas saya lagi.
Sebuah Poster!
Ya, poster untuk menyambut Bupat Sukoharjo di SMA kami, tapi sayang nya enggak menang :(
Tapi enggak apa2, soalnya menurutku poster kita udah keren kok >u<, pake banget!!
Ini Dia . . . .
Poster dengan tema HIV/AIDS ini diciptakan oleh teman kami, Juniar Ikhsan :)
Thank you^^
Classix (XI IPA 6 SMANSA) : https://www.facebook.com/groups/155024157969313/
see you ...
Lama tidak ngepost,
kali ini hanya ingin menampilkan karya dari kelas saya lagi.
Sebuah Poster!
Ya, poster untuk menyambut Bupat Sukoharjo di SMA kami, tapi sayang nya enggak menang :(
Tapi enggak apa2, soalnya menurutku poster kita udah keren kok >u<, pake banget!!
Ini Dia . . . .
Poster dengan tema HIV/AIDS ini diciptakan oleh teman kami, Juniar Ikhsan :)
Thank you^^
Classix (XI IPA 6 SMANSA) : https://www.facebook.com/groups/155024157969313/
see you ...
Sabtu, 26 Januari 2013
Stasiun dan Kenangan
“Tomo?”
Kulihat seorang laki – laki remaja yang sudah tak asing lagi bagiku, berlari ke arahku. Ia terlihat sangat terburu – buru.
“Yume, kau mau kemana?” Tanyanya terengah – engah ketika ia berhasil menyusulku, sembari mendekap lututnya kelelahan.
“Ke Tokyo. Aku ingin melanjutkan kepastian masa depanku di sana. Aku ingin meraih cita – citaku.” Jawabku penuh keyakinan.
“Benarkah? Kenapa secepat ini? Bahkan kau tidak berpamitan denganku?” Perkataan memelasnya membuatku terpukul begitu dalam. Tomo, teman masa kecilku, yang senantiasa mendampingiku hingga saat ini. Aku baru sadar bahwa aku akan merasa kesepian tanpanya, menyedihkan sekali. Tapi aku juga tak ingin terombang – ambing dalam kehidupan tanpa kepastian seperti ini.
“Maaf aku hanya tidak ingin membuatmu sedih.”
Tak lama kemudian kudengar sebuah suara menandakan datangnya kereta api membuat perasaanku semaikin tak menentu. Sepertinya aku baru saja disuguhi dua pilihan yang sama – sama penting, antara Tomo atau terlambat memasuki kereta. Apalagi aku adalah salah satu penumpang di dalamnya. Sontak aku langsung berlari ke arah stasiun, hingga membuatku lupa berpamitan dengan Tomo yang terlambat mencegahku.
“Aku akan kembali nanti.” Teriakku sambil melambaikan tangan ke arahnya meski suaraku terdengar tidak jelas karena berlarian.
Tidak sempat aku mengetahui ekspresi Tomo. Yang ada di pikiranku, aku berharap tidak terlambat dan membuatku ketinggalan kereta. Aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk berlari sekencang – kencangnya. Dan akhirnya aku berhasil memasuki area stasiun. Tidak jauh dari keberadaanku, ku lihat kereta api tujuanku sudah diserbu oleh para penumpang lain. Tanpa menunggu terlalu lama, aku segera menuju ke arahnya. Nyaris saja kereta api itu sudah mulai bergerak, namun ternyata, Tuhan mengabulkan harapanku, aku berhasil memasuki lorong kereta tersebut. Lega sekali. Ku tapakkan kakiku di atas lantai kereta mencari nomor tempat dudukku, dan aku menemukannya, tepat di samping laki – laki tua yang sedang terlelap tidur.
Aku memposisikan dudukku sepelan mungkin berharap tidak membangunkannya. Kemudian kuletakkan koperku beserta case gitarku di tempat tas sebelah atas kereta tersebut. Sejenak, kuistirahatkan tubuhku yang sudah basah oleh keringat, efek dari berlarian tadi, dan sialnya lagi, sekarang kakiku mulai terasa pegal. Tiba – tiba dalam suasana ini Tomo kembali hadir di pikiranku beserta kehidupanku di Osaka sebelumnya. Tapi, apa boleh buat, sudah kuambil keputusan ini matang – matang. Aku tak mungkin membiarkan ragaku berada di panti asuhan terus menerus setelah perpisahan antara kedua orangtuaku sebelumnya.
Mereka sama sekali tidak mempedulikan diriku ketika keluarga berantakan itu masih saling terikat. Apalagi setelah kehancurannya, perihnya hati semakin terasa ketika tak ada yang menanyakan keberadaanku ataupun sekedar membahas kelangsungan hidupku selanjutnya. Mereka terlalu egois, pikiran mereka hanya kepentingan diri sendiri, kemudian tanpa perasaan sedikitpun, pergi dengan pasangan mereka masing – masing. Sementara aku? Aku berubah menjadi anak sebatang kara.
Sempat terpikir olehku, bagaimana bisa aku terlahir di tengah kehancuran keluarga seperti ini. Dan hatiku sering bertanya – tanya, bagaimana rasanya memiliki keluarga harmonis seperti teman – temanku, yang dengan polosnya menggambarkan kehidupan keluarga mereka ketika bersekolah dulu. Aku benar -benar tidak tahan, kesabaranku terkalahkan oleh perasaan iri yang memuncak. Hanya Tomolah yang mengerti kondisiku saat itu. Dia seperti cahaya yang membangkitkanku dari keterpurukan dan menyinariku dari kegelapan dunia. Tapi sekarang, aku akan hidup sendirian tanpanya.
Namun di balik itu semua, aku sadar bahwa aku juga harus maju, aku tak ingin berlarut – larut dengan penyesalan berselimut kesedihan dalam masa laluku ini. Aku ingin meninggalkan hari kemarin dan maju menuju esok yang lebih cerah, esok yang penuh kesempatan untuk meraih kebahagiaan.
***
Keributan derap kaki penumpang membangunkanku yang sebelumnya tengah tertidur lelap sekali. Segera saja, aku membuka kelopak mataku dengan beratnya. Rasa kantuk dan malas tentu saja masih bersarang di ragaku. Namun semuanya terusir ketika menyadari, aku sudah sampai pada tujuanku, Tokyo. Sesegera mungkin aku merapikan barang -barangku untuk berjalan keluar kereta seperti penumpang lain.
BRRUKKK..
Ah, sial bisa – bisanya aku terjatuh hanya karena turun dari kereta. Aku berusaha untuk bangkit, tapi kenapa susah sekali? Sepertinya kakiku terkilir, hingga kulihat seseorang menjulurkan tangan ke arahku, menawarkan pertolongannya. Dengan terpaksa, aku meraih tangan orang yang belum kukenali itu. Saat aku mulai dapat bangkit dan berdiri sempurna, aku menatap pria itu untuk mengucapkan terima kasih. Tapi ternyata pertanyaannya mendahului niat dalam hatiku.
“Kau tidak apa – apa, kenapa bisa jatuh?” Tanyanya khawatir.
“Aku baik – baik saja. Mungkin karena aku tidak fokus.Terima kasih telah menolongku.” Jawabku sembari membungkukkan badan.
“Sepertinya kita harus lekas pergi dari tempat ini, kamu menghalangi penumpang yang akan keluar dari kereta.” Pernyataan yang tiba – tiba itu membuatku tersentak kaget, segera aku berjalan cepat untuk pergi dari sana, sebelum aku menengok ke belakang untuk memastikan kebenaran perkataan laki – laki tadi. Dan pantas saja, semua orang, menatapku saat itu. Ah, malu sekali.
“Oh ya. Kita belum berkenalan, namaku Ray.” Ujarnya sembari menjulurkan tangan yang sama saat menolongku tadi, ke arahku.
“Aku Yume senang bertemu denganmu.” Jawabku ramah, kemudian menyambut tangan itu.
“Kamu mau kemana setelah ini.” Tanyanya kembali. Aku tidak tahu harus membalas apa, karena aku juga tidak terlalu mengetahui mengenai Osaka, bahkan sama sekali tidak tahu.
“Tidak tahu, ini kali pertama aku kesini.” Jawabku jujur.
“Oh, berani sekali kamu datang sendirian. Apa tujuanmu?”
“Emm, berharap aku dapat memperbaiki hidupku dengan menyanyi dan bermain gitar.”
“Oh? Kau bisa menyanyi. Boleh aku dengar?”
Permintaan laki – laki ini tidak aku ladeni seperti sebelumnya. Tiba – tiba aku berpikir mengapa dia ingin sekali mengetahui kehidupanku lebih dalam, sampai – sampai menyuruhku bernyanyi. Padahal kita kan belum saling kenal sebelumnya. Bagaimana jika dia orang jahat?
“Hei? Kenapa melamun?” Ucapannya menyadarkan lamunanku mengenai laki – laki tadi, mengenai pikiran – pikiran buruk tentangnya.
“Oh, kenapa kau tiba – tiba ingin mengetahui semua tentangku?”
“Oh, jadi kamu khawatir jika aku adalah orang jahat atau semacamnya?” Ucap laki – laki itu sembari tertawa pelan, ia berhasil menebak pikiranku. Aku hanya terdiam, kemudian disusul perkataannya kembali.
“Tenang, ini kartu namaku.” Dia menyodorkan secarik kertas tebal berukuran kecil itu. Setelah ku baca isinya, aku merasa sedikit lega.
“Jadi anda seorang produser?” Tanyaku senang saat menyadari bahwa aku sudah menemukan orang yang sedang aku cari sejak awal.
“Iya, boleh aku mendengar suaramu? Aku bisa membantumu meraih impianmu itu.”
“Boleh, bisakah aku bernyanyi di sana.” Ujarku sembari menunjuk di salah satu sudut stasiun tempatku berada. Permintaanku dibalas anggukan oleh laki – laki tadi. Kami segera berjalan ke sana diiringi perasaan penuh harapan yang tumbuh indah di hatiku.
Aku mengambil posisi duduk bersila di atas lantai tak berkarpet tersebut. Ku buka case gitarku perlahan kemudian mulai memetiknya,memainkan sebuah intro. Aku menikmati perform pertamaku di stasiun ini. Semakin aku bernyanyi terlalu lama, semakin aku menikmati lantunan lagu yang sedang kusenandungkan ini. Mataku terpejam berusaha mendalami lagu ini, Tomorrow’s Way, lagu milik YUI, penyanyi terkenal yang sangat aku idolakan.
Plok … Plok …. Plokk…
Tepuk tangan meriah tiba – tiba memenuhi sekeliling tempatku bernyanyi. Saat mataku terbuka, betapa kagetnya aku ketika kudapati kerumunan orang berada di depanku bersamaan tepuk tangan mereka yang ternyata telah menonton performku tadi.
“Terima kasih.” Berulang kali aku mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena apresiasi yang mengagumkanu baru saja. Benar – benar tak habis pikir.
“Selamat mulai saat ini, kamu terdaftar ke dalam label kami.”
****
Bulan demi bulan. Aku menikmati kehidupan bahagia ini, kehidupan baru seorang Yume, yang dulunya hanya seorang anak penghuni panti asuhan. Aku menjadi penyanyi baru yang sedang digandrungi banyak orang, khusunya remaja. Mereka bilang suaraku indah, tapi aku tidak berpikir seperti itu. Aku menyadari masih banyak yang lebih hebat daripadaku.
Aku memanjakan tubuhku sejenak di atas kasur hotel tersebut. Maklum saja, akhir – akhir ini, aku sedang melakoni banyak tawaran bernyanyi. Tak heran, jika akhir – akhir ini pula, aku menjadi mudah sekali lelah. Panggung demi panggung, seentero Jepang, sudah banyak kusinggahi. Saat inilah, aku menyadari jika cita – cita kecilku telah tercapai. Tiba – tiba bayangan seseorang menghinggapi pikiranku, Tomo. Entah ada angin apa, aku sangat merindukannya, sahabat kecilku tersebut. Bagaimana kabarnya sekarang? Ku ambil ponsel pink yang tergeletak di atas meja itu, kemudian aku mulai menggerakkan jemari tanganku, mengetikkan sebuah pesan singkat.
Hai, Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?
Aku menunggu balasan pesan singkatku gundah. Kerinduanku dengan sahabat kecilku itu sudah amat terasa. Hingga akhiranya terdengar getaran pada ponselku, saat kutatap layar ponselku yang menyala, senyumku tersungging lebar ketika mendapati nama ‘Tomo’ terpampang di sana. Lekas, aku mengambilnya dan mulai membuka pesan singkat tersebut.
Baik – baik saja. Bagaimana dengan kehidupan barumu di Tokyo. Tidakkah timbul keinginan untuk mengunjungiku? Aku merindukanmu Yume.
Kalimat balasannya tersebut membuatku tak kuasa menahan kesedihan. Andai dia tahu bahwa di sini aku juga merindukannya. Tapi, semua keinginan – keinginan manis itu dengan mudahnya terhalang jadwal padat milikku.
Tunggulah di stasiun minggu depan. Aku akan menemuimu.
Aku tidak menghiraukan jadwal apa yang harus kulakukan minggu depan. Tapi keinginanku untuk bertemu Tomo lebih cepat sudah amat ingin kulakukan. Aku harap aku bisa meminta izin libur sebentar pada label.
Seminggu kemudian . . .
Betapa sedihnya ketika aku harus menerima fakta bahwa aku hanya memiliki kesempatan satu hari untuk libur. Bagaimana bisa, aku mengobati rinduku dengan Tomo? Tapi aku tak ingin melewati kesempatan ini sia - sia. Lebih baik bertemu sebentar, daripada tidak sama sekali bukan? Aku menyiapkan diriku sebaik mungkin pagi itu. Kudandani wajahku secara natural, namun tetap terlihat cantik. Selain itu, aku juga menyiapkan kebutuhan yang kira – kira kuperlukan untuk berada di Osaka selama satu hari. Sepertinya tidak terlalu banyak, jadi aku memutuskan untuk membawa tas kecil saja.
Entah kenapa, aku merasa senang sekali untuk bertemu dengan Tomo. Mungkin aku sudah teramat merindukannya, sekaligus menyayanginya. Aku sadar kebaikan selama menemaniku dari keterpurukan masa laluku sangatlah mulia. Itulah sebabnya aku tak akan sanggup melupakan Tomo, selamanya.
Setelah semuanya siap, kali ini aku akan berangkata sendiri tanpa didampingi oleh manager ataupun pihak label. Aku juga berharap tidak ada yang mengetahui keberangkatanku, sehingga aku akan merasa nyaman nantinya. Stasiun pagi itu sudah terlihat ramai seperti biasa. Keberangkatanku untuk menjadi penumpang kereta kembali memutar memori lama, mengundang nostalgia. Masih teringat di benakku, stasiun inilah awal dari diriku yang sekarang, stasiun ini pula yang memberikanku pagi yang penuh harapan, pagi yang penuh kesempatan untuk meraih kebahagiaan.
Perjalanan ke tempat tinggalku di Osaka menjadi terasa sangat cepat, ketika aku menyadari bahwa matahari sudah berada di atas sana, menandakan siang sudah menggantikan pagi. Aku menengokkan kepalaku ke arah jendela kereta. Tepat sekali, aku telah menemukan pemandangan Osaka yang dulu. Rasanya, aku ingin cepat – cepat turun dan menginjakkan kakiku di sana. Namun, pikiranku mendadak mengingat Tomo kembali, segera kuraih ponsel di kantong jaketku lalu mengetikkan pesan singkat untuknya kembali.
Aku akan tiba di Osaka. Aku harap kamu menjadi orang pertama yang aku temui.
Kereta telah tiba di Osaka, gejolak hatiku lama kelamaan berubah damai bak ditumbuhi bunga – bunga musim semi yang menyejukkan. Aku merindukan Tomo, sangat merindukannya.
Ketika kereta sudah berhenti di stasiun, sesegera mungkin aku menginjakkan kakiku turun dari kereta, selanjutnya membawa langkahku keluar dari stasiun. Dugaanku tepat sekali, ketika mataku menangkap sosok Tomo yang sedang berdiri tak jauh dari stasiun. Sesegara mungkin aku berlari ke arahnya, ku lihat ekspresi gembira terlukis di wajahnya sama denganku. Ku peluk Tomo seerat mungkin berusaha menghapus kerinduanku dengannya walau hanya sejenak.
“Aku merindukanmu, Yume.” Nada bicaranya terdegar lirih sekali di telingaku, seperti berbisik. “Aku menyayangkan detik – detik keberangkatanmu dulu.” Perkataannya barusan membuatku heran.
“Maksudmu?” Ucapku melepaskan pelukannya kemudian menatap mata sendunya tersebut.
“Aku takut jika aku terlambat. Aku ingin mengatakan jika, Aku menyukaimu.”
Perasaan Tomo yang dilantunkan baru saja membuatku tersentak kaget. Aku tidak menyangka bahwa sahabat kecilnya itu memiliki perasaan sayang kepadanya lebih dari sahabat. Aku hanya dapat terdiam lama sekali, entah aku harus merasa sengan ataupun sedih mendengar kenyataan ini.
“Apa sudah ada orang lain yang mengatakan ini lebih dulu?” Suara Tomo terdengar makin lirih, tidak terlalu jelas terdengar. Tapi aku mengerti makna yang ia katakan baru saja.
“Belum. Karena aku hanya mengharap sosokmu. Tidak ada orang lain yang mengerti perasaanku sedari kecil, tidak pula ada yang memperdulikan keberadaanku dalam kegelapan masa kecilku hingga sekarang. Kecuali kamu, hanya kamu yang kurindukan saat aku di Tokyo. Tomo”
Aku tidak terlalu mengerti, mengapa kalimat pengakuan itu tiba – tiba mengalir begitu lancarnya dari bibirku. Namun aku tau, kalimat itulah yang selama ini hanya bisa kupendam, yang hanya aku dan hatiku yang mengetahuinya. Sekarang aku lega, orang yang kusimpan dalam hatiku selama ini, bisa mengetahui perasaanku padanya. Tak terasa sebulir air mata sudah membasahi pipiku.
“Aku tidak akan lama berada di sini. Aku tidak bisa tinggal di sini, Tomo. Aku ingin pergi dari Kenangan gelap masa kecilku di Osaka. Aku sudah berhasil melupakannya ketika aku di Tokyo, dan aku tidak ingin mengingatnya kembali.” Ujarku sembari mengusap buliran air mata itu.
“Aku berjanji, suatu saat nanti aku akan menyusulmu.” Ujar Tomo yakin, sebelum ia mendekapku penuh kehangatan.
- THE END -
Selasa, 22 Januari 2013
Aku dan Mimpi – mimpiku
Paris . . .
“Ahh, mana mungkin aku bisa ke
sana?” Gumamku ragu – ragu. Hingga akhirnya ku tatap gambar Menara Eiffel
tersebut lekat – lekat.
“Pasti bisa.” Ku yakinkan diriku
sendiri. Aku mempercayai kekuatanku,
kekuatan Tuhan yang telah diberi. Suatu
saat nanti aku pasti berhasil meraihnya seperti mimpi – mimpiku sebelumnya.
***
Tet . . Tet. . Tet . .
Akhirnya bel istirahat itu berbunyi,
sepertinya waktu itulah yang telah dinantikan para siswa di kelas ini, termasuk
aku. Bosan sekali, mendengar Guru Bahasa
Indonesia yang baru keluar tadi berceletuk di depan kelas, apalagi dengan suara
yang jauh dari kata keras. Bukankah itu membuat kami mengantuk? Tapi ya sudahlah,
untuk memahami pelajaran, salah satu syaratnya ialah kita harus mencintai guru.
‘AKU CINTA GURU’ Gumamku
dalam hati sembari tersenyum sendirian di bangkuku, Tiba – tiba seorang teman
menepuk pundakku dan berhasil menyadarkanku dari lamunan konyolku tadi.
“Wooyy, senyum – senyum sendiri,
Kenapa? Jangan sampai anak – anak yang lain meragukan kesehatanmu ya? Hehehe.”
Ujar Nia dengan gamblangnya, Temanku ini memang sangat terbuka, jadi wajar jika
bicaranya cenderung ceplas – ceplos. Tapi, dia adalah sahabat karibku, aku
menyayanginya sekaligus menghargai sikapnya tersebut.
“Kau ini.” Balasku agak sedikit
kesal.
“Mau ke kantin?” Tawarnya penuh
semangat.
“Ahh, tidak, aku sudah sarapan
nih.” Jawabku sembari menyunggingkan senyum termanisku, walau niat dalam hati
ialah penolakan.
“Yah, kau ini, apa tidak ada aktivitas
lain selain membaca buku?” Ekspresinya berubah cemberut.
“Tidak.” Jawabanku sukses membuatnya
semakin kecewa. Walaupun begitu, aku senang bisa menggodanya setiap hari.
“Ok, selamat belajar, kutu buku.”
Ucapnya sekali lagi sambil menjulurkan lidahnya sebelum langkahnya bergerak
membelakangiku dan membawanya pergi ke luar kelas.
Aku hanya bisa menggeleng –
gelengkan kepalaku melihat tingkah konyolnya itu.
Pulang sekolah tiba . . .
Seperti biasa aku dan Nia berjalan
menuju rumah yang terbilang berjarak cukup dekat dari sekolah. Tak ketinggalan,
selama berjalan berdua, obrolan – obrolan mengiringi setiap langkah kami.
“Dit, main yuk.” Tawar Nia untuk kesekian kalinya. Dia
sepertinya tidak dapat kehabisan ide untuk membujukku, walau seringkali jumlah
tawarannya tidak seimbang dengan penolakanku yang menduduki prosentase lebih
besar. Kadang, aku juga merasa tidak enak hati.
“Yah, kamu tidak dengar Bu Khusnul
tadi? Lusa ada ulangan Matematika?” Lagi – lagi aku menolaknya.
“Sebentar sajalah, kan belajarnya
bisa besok.” Bujuk Nia memohon.
“Maaf Nia, tidak bisa. Kalau aku
nggak bisa ngerjain, aku pasti menyesal berminggu – minggu.”
“Apa kau juga menjawab tidak jika
aku mengajak Nicholas?”
Pernyataan itu sukses mebuatku
terpatung di tempat. Nicholas, teman SMPku dulu, mendadak pikiran beralih
mengingat sosok Nicholas. Aku tak bisa mengelak jika aku menyukainya dulu
bahkan hingga sekarang. Aku terdiam begitu lama. Kutimbang – timbang ulang
penolakanku tadi, dan sekarang kegalauan mulai menyusul menambah suramnya
suasana antara memilih Nicholas atau belajar.
***
Aku harap aku tidak salah mengambil
keputusan ini dan menyesal kemudian. Kali ini, Nia mengajakku pergi ke sebuah
kafe. Kami berbincang – bincang banyak mengenai diri kami masing – masing, atau
sekedar bersenda gurau dan yang pasti tentang Nicholas, teman SMP sekaligus
cinta pertamaku. Aku belum dapat mengartikan rasa ini, entah kenapa ketika
namanya terngiang di otakku, keinginan bertemu dengannya selalu muncul bahkan
di saat waktu yang tidak tepat sekalipun.
“Apa kau sudah bertemu Nicholas
sebelumnya?” Tanyaku mengubah topik pembicaraan.
“Ahh, sepertinya kau sudah rindu ya,
aku bertemu dengannya seminggu yang lalu dan segera merencanakan untuk main
bersama seperti ini, jadi aku mengajakmu saja?” Jawabnya berniat menggoda.
Aku tak merespon jawaban Nia. Jujur
saja, aku lega bisa mengetahui kabar tentangnya, terlebih mengetahui bahwa
Nicholas baik – baik saja. Ingin sekali segera berjumpa dengan sosoknya yang
sekarang, masihkah setampan dulu. Tidak lama setelah imajinasiku mulai
berkembang, tak sengaja cahaya mataku menatap sosok yang menurutku sudah tak
asing lagi, sosok yang kutunggu – tunggu selama ini.
“Hei Nicholas!” Panggil Nia kepada
sosok yang ku maksudkan tadi.
Nicholas segera menghampiri kami
setelah dia menampakkan senyum manisnya itu. Senyuman yang sama seperti 3 tahun
yang lalu.
“Hai, apa kabar?” Nia menyapanya
ramah yang kemudian mengambil posisi di dekatku. Ternyata tak banyak perubahan
dalam dirinya. Sementara jantungku mulai berdegup lebih kencang diselingi
kegugupan yang mulai merambah sekujur tubuhku.
“Baik. Bagaimana dengan kalian?”
Ujarnya berbalik Tanya.
Tidak seperti Nia yang menjawabnya ceria
, aku hanya memberi jawaban dengan anggukan kecil tak lepas dari kegugupan yang
masih hingap di ragaku bahkan pipiku pun mulai memerah.
“Aku ke toilet dulu ya.” Lagi –
lagi Nia membuatku mati kutu. Bagaimana bisa meninggalkanku sendirian dengan Nicholas,
hanya berdua. Aku terpaksa mengiyakannya, semakin jauh dia berjalan, tak terasa
sosoknya cepat sekali lenyap di balik dinding. Dan sekarang, Kepanikan mulai
menyerangku.
“Dita, aku ingin memberimu sesuatu.”
Kalimat Nicholas mebujukku menatapnya untuk yang pertama kali setelah aku
menunduk terlalu lama.
“Apa?” Kutanyakan sebuah kata untuk
yang pertama kalinya pula, walaupun terasa berat.
Kulihat tangannya sibuk merogoh
kantong kanan pada jasnya, dan di letakkan benda berwarna pink itu di atas
meja, sebuh surat. Aku terbelalak kaget. Bukankah itu surat yang kuberikan
kepadanya 3 tahun yang lalu? Dan hingga sekarang, masih ia simpan. Tak lama
setelah itu, dia berbicara,
“Aku menerimanya. Maaf aku baru
bisa membalas perasaanmu, Apakah aku terlambat?”
Oh Tuhan, Apakah aku sedang
bermimpi? Dia juga memiliki rasa yang sama denganku. Benar – benar tidak habis
pikir. Ku ambil surat cinta itu lalu kudekap di depan dadaku, kutundukkan kepalaku
kembali untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi, dia menyukaiku.
***
Satu bulan kemudian . . .
“Kamu turun peringkat? Bagaimana
bisa?”
Entah gejolak apa yang menyelimuti
hatiku saat itu ketika harus menerima amarah dari kedua orang tuaku, terutama
ayahku.
“Maaf Ayah. Dita juga sedih.”
Ujarku terisak, aku benar – benar tidak mampu menahan air mata yang dari tadi terus
– menerus mendesak keluar.
“Kamu enggak belajar? Apa kamu
pacaran?” Bentak Ayah lebih keras. Aku sudah
tak dapat berkutik untuk menyembunyikan semua fakta ini. Fakta ini benar
– benar mendustai kedua orang tuaku, ingin rasanya mengatakan yang sebenarnya,
tapi aku tidak sanggup.
“Jawab Ayah!!!”
“Iya.” Terpaksa aku melontarkan
kata ini. Kata yang membuat keberadaanku menjadi semakin terpojok, yang
selanjutnya omelan – omelan menyakitkan itupun meledak kembali.
“Ya ampun Dita. Sudah Ayah bilang,
jangan pacaran dulu sebelum lulus SMA, itu akan mengganggu belajarmu, Lihat
raportmu, semula kau menjadi bintang kelas, dan sekarang 10 besarpun tidak kau
peroleh? Kau Ingat, sebentar lagi kamu akan menghadapi UN dan sukses tidaknya masa
depanmu semakin dekat, tak bisakah kau sadari. Bersabarlah, Dita. PUTUSLAH
DENGAN PACARMU ITU.”
“Tapi Ayah . . .”
“Lebih menyayangi Ayah atau Dia.”
Segera mungkin Ayah melangkah cepat meninggalkanku yang tak kuasa menahan isak
tangis. Aku berlari kencang menuju kamarku, kemudian kurebahkan tubuh keras.
Aku menangis sejadi – jadinya kala itu. Aku baru sadar, ternyata hubunganku
dengan Nicholas akan menumbangkan semua mimpi – mimpiku. Ini pun kesalahanku, waktu
berhargaku lebih banyak kuhabiskan dengannya daripada belajar. Jika aku tidak
menuruti egoku, pasti semua akan baik – baik saja. Aku juga sadar, aku terlalu
egois, aku hanya memikirkan diriku sendiri, tidak sekalipun memikirkan mereka,
kedua orang tuaku yang sudah jelas – jelas mendidikku mati – matian hingga saat
ini. Namun apa yang ku balas? Aku malah berbuat menyimpang.
Tapi dari semua fakta itu, aku juga
mencintai NIcholas, entah ini hanya perasaan sayang semata, atau perasaan
sayang yang nyata.
‘Masihkah ada kesempatan untukku?’
***
Hari ini, Kuputuskan untuk bertemu
Nicholas, aku belum tahu apa yang harus ku katakan nantinya. Namu aku berharap
dia mengerti mengenai masalahku dengan orang tuaku semalam. Aku memutuskan
untuk tidak memberitahunya mengenai kedatanganku kali ini. Aku tidak ingin dia
mencemaskanku yang tiba – tiba akan singgah ke rumahnya.
Semakin lama aku berjalan, semakin
dekat langkahku dengan rumah Nicholas. Tapi, tak seperti biasanya, pintu
gerbang rumah Nicholas terbuka dan aku juga mendapati mobil terparkir di
dalamnya, menurutku itu bukan mobil Nicholas. Tanpa memencet bel terlebih
dahulu, aku langsung memasuki rumahnya. Keganjalan mulai terlihat kembali,
ketika aku mendapati pintu rumahnya juga terbuka. Perasaan penasaran sekaligus
khawatir berbaur menjadi satu. Kuputuskan untuk membuka pintu rumahnya tersebut
dan…
‘Apa yang ku lihat ini?’
“Dita? Sejak kapan kau di sana?”
Nicholas menatap kedatanganku shock. Bukannya aku yang seharusnya merasa shock
melihat pemandangan memuakkan seperti ini. Dengan kedua mataku, kulihat
kekasihku sendiri bermesraan dengan gadis lain.
“Jadi ini kamu yang sebenarnya?
Dasar Munafik.” Bentakku kepada Nico tanpa mempedulikan gadis yang terlihat
masih bingung dengan semua kejadian ini.
“Tunggu, aku bisa jelaskan.”
Nicholas berusaha menahanku. Namun tentu saja aku mengelaknya.
“Aku salah memilihmu, Nico.”
Itulah kalimat terakhirku sebelum
aku meninggalkan Nicholas dan gadis selingkuhannya tadi. Aku beranjak pergi
dari tempat laknat itu kemudian berlari sekencang – kencangnya, lari, dan terus
berlari, tak peduli lelah yang mulai diderita kakiku. Yang aku inginkan saat
ini adalah menghilang dari kenyataan pahit yang menimpaku dengan kejamnya.
Bagaimana mungkin? Orang yang kucintai ialah orang yang menghianatiku.
Kini, kelelahan sudah tak dapat ku
tahan lagi. Aku memutuskan berhenti di sebuah tanah lapang. Aku ingat, tempat
ini adalah tempat yang aku datangi pertama kali ketika aku memberikan surat itu
kepada Nicholas. Dan sekarang, aku datang sendirian tanpa cinta tulusnya
melainkan hanya luka nyata terperih yang aku dapat. Aku payah, benar – benar payah,
bisa – bisanya tertipu oleh kata – kata manis yang menjerumuskan itu. Lalu, apa
gunanya aku menyita waktuku hanya untuknya, menghianati ayahku hanya untukknya,
bahkan merelakan kegagalanku hanya untuknya. Semuanya sia -sia, aku menyesal.
“Ini pelajaran untukmu sayang.”
Suara itu, kutengok ke arah sumber
suara dan kudapati ibuku sudah berada di belakangku. Lekas aku memeluknya dan
menangis di dekapannya. Kucurahkan semua sakit hatiku dan tangis yang sebelumnya
aku pendam sendiri.
“Wanita baik sepertimu, tidak cocok
untuk bersanding dengan laki – laki licik seperti dia. Percayalah akan ada yang
lebih baik untukmu nanti. Kau hanya harus bersabar sayang. Lihat langit biru di atas sana.”
Ku usap air mataku, kutengadahkan
kepalaku ke atas, menatap lagit biru indah itu.
“Selama langit biru itu masih di atas, kau masih memiliki kesempatan
berharga lainnya karena kehidupan akan terus berjalan, tidak ada kata terlambat
untuk terus maju. Berjuanglah apapun yang terjadi.”
“Tapi aku sudah gagal ibu, aku kalah.” Jawabku murung.
“Jangan pernah berkata gagal,
karena kegagalan hanya untuk orang – orang yang menyerah dan kalah.
Bukankah kau masih memiliki mimpi – mimpimu yang dulu?”
Seketika aku teringat mereka,
impian – impian besarku. Seperti sebuah kilas balik menayangkan di saat aku bekerja
keras untuk meraih satu demi satu cita – cita yang kuimpikan, dan betapa
gembiranya diriku saat aku meraihnya. Aku benar – benar merindukan mereka, merindukan diriku yang
dulu.
“Kembalilah pada dirimu yang dulu,
kembali pada mimpi - mimpimu. Raih mereka kembali. Kami akan senang jika kamu
bahagia kelak, Dita. Dan percayalah, Keyakinan dan cita - cita akan menjadi
sebuah doa. Yakinlah pada dirimu sendiri, dan yakinlah bahwa Tuhan bersama
orang – orang yang berusaha dan berdoa.”
“Ya, aku sadar ibu. Terima kasih.”
-TAMAT-
Langganan:
Postingan (Atom)
