Dreaming in حلالا way. . .

Halaman

Cari Blog Ini

Apa sih artinya?

Rabu, 13 Mei 2015

[Cerpen] Mimpi Pendidikan



Suara kokok ayam yang terdengar riuh memaksaku untuk beranjak dari tempat tidur yang nyaman itu. Kakiku masih terasa berat untuk turun dari ranjang ini, begitu pun dengan mataku yang masih sedikit terpejam. Namun, bayangan ibuku yang sudah berkutat di dapur memberikan dorongan yang lebih besar dari apapun. Aku harus segera melakukan rutinitas harianku seperti biasa.
“Ibu.” Sapaku sesekali menggosok-gosok mataku yang belum terbuka sempurna.
Le, Tolong bantu Ibu merapikan tempe yang akan kau jual di pasar ini!”
Ibu langsung menyambut kedatanganku begitu pun juga dengan rentetan benda persegi panjang yang selalu setia menemaniku. Ya, berjualan tempe menjadi profesi Ibu sekaligus profesiku sejak lama. Aku harus selalu membantu Ibu untuk sekedar memenuhi kebutuhan kami.
Nggih, bu.” Aku menyambut perintah Ibu dengan senang hati. Kutata tempe-tempe hasil produksi Ibu ke dalam keranjang besar yang ditopang sepeda ontel, kendaraan yang biasa kugunakan untuk berjualan setiap harinya. Setelah semua siap, aku segera mengeluarkan sepedaku dari rumah. Aroma fajar langsung menyambutku pagi itu. Setelah berpamitan dengan Ibu, kukayuh sepeda tua itu perlahan. Tak butuh waktu lama bagiku untuk memasuki area pasar. Kutuntun sepedaku ke arah salah satu lapak dagangan, tempatku berjualan tempe setiap hari. Hingga kemudian, ku tata tempe-tempe itu segera ketika para pembeli sudah mulai berkerumun memenuhi pasar pagi itu.
“Tempenya 5 ribu ya nak?”
“Oh iya bu.” Sesegera mungkin kutata tempe pesanan Ibu tadi dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. “Ini bu.” Ujarku kemudian menyodorkan satu bungkus tempe kepada beliau.
“Terima kasih nak.”
“Sama-sama bu.” Jawabku tersenyum sembari menerima satu lembar uang lima ribuan itu. Tak lama kemudian, beberapa pembeli mulai berjalan ke lapak daganganku dan memesan tempe seperti yang Ibu tadi lakukan. Begitu pun seterusnya, aku patut berbahagia karena tempe buatan Ibuku memang terkenal enak dan gurih. Pantas saja para pembeli sangat antusias memborong daganganku.
Matahari pagi mulai menggantikan fajar yang kembali temaram. Pasar pun semakin ramai dan daganganku sudah terjual habis, Alhamdulillah. Tak sabar rasanya melihat senyum Ibuku tercinta ketika menyambut kedatanganku nanti. Kurapikan lapak daganganku kala itu dan bersiap-bersiap pulang.
Selama perjalanan pulang, aku menemui beberapa anak berseragam sekolah merah putih mengiringi laju sepedaku dari belakang. Tiba-tiba rasa sesak timbul ketika mereka menyalipku sembari melemparkan canda tawa kepada teman lainnya. Ah, kapan aku bisa seperti mereka, bersepeda sembari menggendong tas dan memakai seragam merah putih yang sama. Aku mengalihkan pandanganku dari arah mereka, berusaha menahan kesedihan akibat harapan yang tak kunjung terwujud itu. Sudahlah, itu semua hanya mimpi bagiku. Walaupun sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatiku, aku percaya akan mimpi-mimpi itu. Mimpi tentang bangku sekolah yang akan terwujud suatu hari nanti.

“Ibu. Ardi pulang.” Sapaku kepada Ibu yang terlihat sedang menggoreng tempe untuk sarapan kami.
Aku memposisikan dudukku di dekat Ibu dan mulai menggoreng tempe, seperti yang Ibu lakukan. Entah mengapa, bayangan anak-anak sekolah tadi masih teringiang di dalam pikiranku.
 Le, Ibu dengar di kampung sebelah ada mahasiswa yang sedang observasi. Sepertinya mereka mendirikan perpustakaan untuk anak-anak kampung ini.” Ucap Ibuku mengawali pembicaraan.
“Oh ya bu?” Raut wajahku berubah antusias. Entah mengapa aku sangat ingin ke sana. Aku ingin merasakan suasana belajar bersama anak-anak lain layaknya di sekolah. “ Adit boleh ke sana bu?” Ujarku kemudian.
“Boleh, Ibu dengar, sore ini perpustakaan sudah siap. Kakak-kakak mahasiswa itu pun yang akan mengajar.”
Aku tersenyum senang, walaupun bukan sekolah sungguhan, tetapi rasanya senang sekali. Setidaknya aku sedikit bisa merasakan suasana sekolah secara langsung. Aku pun segera menyiapkan baju terbaik sekaligus tas bekas dari kakakku. Aku mengisinya dengan beberapa buku kepunyaan kakakku saat bersekolah dulu. Walaupun aku tidak besekolah, tetapi bukan berarti menyurutkan niatku untuk belajar. Bagiku belajar itu menyenangkan.

Setelah berpamitan dengan Ibu, aku segera melangkah menuju tempat impianku itu dengan pasti. Sebelumnya, aku menitipkan dagangan ibuku terlebih dahulu di warung dekat sana. Dari kejauhan, perpustakaan itu lambat laun terlihat. Gedungnya agak kecil tetapi hampir mirip gedung sekolah. Aku pun mempercepat langkahku untuk sampai ke sana. Di perpustakaan, sudah banyak anak yang menunggu untuk belajar. Aku pun segera bergabung dengan mereka. Rasanya seolah-seolah berubah menjadi murid di sebuah sekolah, senang sekali.
“Hei, kamu.” Seorang anak di belakangku memanggilku tiba-tiba. Aku pun menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” Tanyaku heran. Aku melihat wajah itu, sepertinya dia tidak nyaman melihatku.
“Bukannya kamu yang berjualan tempe setiap pagi itu?”
 “Iya. Memang kenapa?”
Sebelum aku mendengar jawaban dari anak itu. Kakak-kakak didepanku sudah mengatur kami untuk memperhatikan dan memulai kelas sore itu. Aku pun segera mengabaikannya dan memfokuskan perhatian kepada penjelasan kakak-kakak tersebut.
“Nah, Hari ini ada kelas bercerita. Jadi, siapa yang berani bercerita di depan kelas?” Salah satu dari mahasiswa itu mengajar dengan ramah dan ceria, membuatku semakin bersemangat dan terdorong untuk maju saat itu.
“Saya!” Aku pun memberanikan diri mengacungkan jari dan maju ke depan kelas.
Aku membuka buku cerita bekas kakakku semasa kecil dan mulai bercerita di depan dengan penuh semangat. Suasana hening mengiringi satu per satu kalimat yang kulontarkan. Tidak ada perasaan gugup sedikitpun saat itu, hingga kemudian aku mengakhiri ceritaku dengan sempurna. Kakak-kakak itu memberikan tepuk tangan kepadaku.
“Wah, bagus sekali. Nama kamu siapa?” Ujar salah satu dari mereka ramah.
“Penjual tempe. Hahaha”
Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, anak yang memanggilku tadi berteriak keras diikuti tawa penuh ejekan dari seisi kelas. Aku mendadak lesu. Aku tidak tahu harus berbuat apa kala itu, malu sekali rasanya.
Segera kuambil tasku dan berlari keluar menjauhi tempat menyebalkan ini. Aku menangis sepanjang jalan pulang. Entah mengapa, harapan dan semangatku semula langsung pudar tak berbekas. Tak kusangka, semuanya akan berakhir seperti ini. Bayangan sekolah penuh kesenangan dan semangat ternyata hanya semu. Semua mimpi-mimpi itu tidak berlaku untuk orang miskin sepertiku. Ya, seharusnya aku menyadarinya sejak awal. 

***
“Adit, bangun nak!”
Aku mengerjapkan mataku berulang. Ah, rasanya masih ingin tidur lagi, lelah di badan ini masih sangat terasa. Namun, panggilan berulang itu terlalu menggangguku. Aku pun terpaksa bangun dan berusah membuka mata yang masih lengket ini.
 “Nak, ada yang mencarimu.”
“Hah, siapa?” Aku masih belum bisa menangkap maksud perkataan Ibu  baru saja, mungkin karena aku masih sangat mengantuk.
“Ayo, keluar dulu!”
Aku pun menuruti perintah Ibu. Dengan langkah gontai, aku memaksakan diri untuk berjalan keluar. Saat aku membuka pintu dan menengok keluar, kulihat kakak-kakak yang mengajarku kemarin tersenyum ke arahku. Aku terkejut sekali. Ingin sekali pergi jauh-jauh dari sana, mungkin aku belum bisa melupakan rasa maluku saat kejadian kemarin.
“Adik, kok kemarin langsung pergi?”
Aku terdiam tak menjawab. Wajahku tertunduk menyembunyikan rasa malu yang masih menetap.
“Oh ya, karena kemarin adik sudah berani maju, kakak akan memberi hadiah.” Ujar kakak itu sembari menyodorkan sebuah bungkusan besar.
Aku meraih kotak warna coklat yang terbungkus rapi itu. Tiba-tiba ada dorongan untuk langsung membukanya, mungkin karena penasaran. Mataku melebar seketika saat aku menemui isi dari kotak itu. Seperangkat peralatan sekolah lengkap dengan seragam dan buku. Apa maksud dari semua ini?
“Adik, mau sekolah kan? Mulai besok adik sudah bisa sekolah. Nanti adik juga bisa membantu Ibu, tidak usah khawatir soal biaya dan ejekan teman-teman, kakak-kakak pasti akan membantu.”
Aku menatap wajah kakak di depanku. Pelupuk mataku sudah dipenuhi air mata yang berdesakan ingin keluar. Aku pun langsung memeluknya erat, menangis penuh haru di dekapannya. Aku mengucapkan terima kasih kepada mereka berulang kali. Mimpi itu ternyata akan menjadi nyata. Mimpi tentang gedung sekolah dan suasana belajar bersama teman-teman yang terngiang-ngiang bertahun-tahun di kepalaku akhirnya terwujud. Mulai saat itu, ada satu keyakinan yang melekat di benakku, Tuhan pasti berpihak pada orang-orang yang selalu sabar dan bekerja keras.  

TAMAT

[Cerpen] Negeri Impian



Demi matahari dan sinarnya
Dan bulan apabila menyinari
Dan siang apabila menampakkannya
Dan malam apabila menutupinya
Demi langit dan pembuatannya
Dan bumi serta penghamparannya…

={}=[}={}={}={}={}={}={}={}={}=

Aku menyudahi tilawahku malam itu. Jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh malam namun kantuk belum menyerangku sedikitpun.  Waktu selarut ini menjadi waktu yang terlalu malam untuk dihabiskan oleh anak sekolah dasar seusiaku.  Mungkin aku akan terlambat di esok hari, tetapi sekalipun aku mencoba untuk menutup dua buah mataku ini dan membaringkan tubuh kecilku di atas ranjang, tetap saja raga ini tak kunjung terlelap. Ahh… Aku menyerah.
Ku beranjak dari tempat tidur satu-satunya di kamar itu. Ibu masih terjaga, menyenandungkan tilawah dengan khusyuk dan merdunya. Benar-benar mengaggumkan, aku belum bisa membaca Al-Quran selama itu, begitupun dengan kakakku yang masih mencerna terjemahan Al-Quran di pangkuannya. Kulangkahkan kakiku menuju balkon rumah, sebuah tempat favoritku untuk menghabiskan waktu semalaman saat aku mengalami insomnia seperti ini. Banyak alasan mengapa balkon rumah ini menjadi tempat kesukaanku, salah satunya adalah atap kaca itu, sebuah benda transparan yang membuatku dapat memandang bentangan langit yang sangat mengaggumkan di atas sana. Jelas sekali kulihat taburan bintang beserta bulan yang tertata sempurna malam ini.
Kujatuhkan tubuhku di sebuah kursi kayu. Pandanganku tak henti-hentinya menatap langit nun jauh di sana. Langit memang indah, salah satu tanda kekuasaan Tuhan yang Maha Agung ini selalu berhasil membuatku berdecak kagum. Kupanjatkan syukur atas segala karuniaNya, termasuk kenikmatan akan kemampuan memandang segala bentuk penciptaan yang Maha Indah dariNya.
“Halimah, kau belum tidur?” Suara Ibu membangunkan lamunanku malam itu. Aku menegakkan tubuhku, masih tetap duduk di atas kursi kayu itu. Kulihat Ibu mendekatiku kemudian mengelus rambutku lembut. “Mengapa tidak tidur? Apa hafalanmu sudah selesai?” Tanyanya kembali masih tetap mengelus rambut hitamku dengan penuh kasih sayang.
“Belum ngantuk bu. Hafalannya masih setengah juz bu, hehe.” Ujarku sedikit bercanda. Benar saja, aku memang tak sehebat ibu ataupun kakakku yang tidak butuh waktu lama untuk menghafal lembar demi lembar ayat suci AlQuran itu, tidak seperti ku yang  sangat rentan dari rasa kantuk dan malas saat membacanya. “Ibu sini deh, adek mau tanya.” Ujarku sembari menggeser sedikit tubuh untuk menyisakan tempat  duduk untuk Ibu.
“Ada apa?”
“Adek mau tanya, Awan-awan kok tidak tampak di malam hari ya, Bu?” Ujarku dengan polosnya. Ibu hanya tersenyum mendengar pertanyaanku baru saja. Selain langit, aku memang sangat menyukai awan, entah mengapa aku sangat tertarik melihat gumpalan benda putih di  pagi dan siang hari itu. Senang sekali rasanya. Rasa penasaranku selalu muncul saat awan-awan itu nampak di depan amataku, termasuk tentang negeri di atas awan yang sering diceritakan guruku di sekolah.
“Adek tau kan awan itu warnanya putih. Kalau malam hari ya tidak kelihatan.” Jelas Ibuku lemubut walaupun tidak membuatku cukup puas mendengarnya, karena aku belum sepenuhnya paham akan  penjelasan Ibu baru saja.
“Tapi bu, kalau saja awan ada di sana pasti langit akan nampak lebih indah, ya kan?”
“Ciptaan dari Tuhanlah yang paling sempurna, Halimah. Kenapa kau sangat menyukai awan?” Tanya Ibu untuk kesekian kalinya
“Ya, karena awan itu keren bu, bentuknya bisa bermacam-macam. Jadi Adek suka.” Jawabku masih dengan nada polos. Ibu hanya meresponku dengan senyuman kecil, dan terus saja memandangi langit yang sama denganku. 

={}=[}={}={}={}={}={}={}={}={}=

Pagi ini aku dan Ibuku akan pergi ke taman. Bahagia sekali rasanya. Menjadi sesuatu yang langka bagiku untuk menghabiskan waktu bersama Ibu. Ibu memang bukan sekedar Ibu rumah tangga, beliau adalah pribadi yang sangat aktif. Selain bekerja sebagai pengajar di SMA, beliau juga terlibat dalam mengurus organisasi pengabdian masyarakat di kampungnya. Tapi itulah ibu, beliau sangat pintar membagi waktu antara urusan pekerjaan dan rumah tangga, hingga kesibukannya pun tak pernah melunturkan perasaan cinta  kami pada Ibu. Karena Ibu tetap menjadi seorang dengan kasih dan sayangnya yang selalu luar biasa.
Pagi itu, Ibu terlihat cantik dengan balutan jilbab biru mudanya, sama seperti warna yang aku pakai. Ya, aku sengaja menyeragamkan jilbabku dengan milik ibu agar kami terlihat kompak.
“Ibu, kita duduk di sana yuk.” Ajakku sembari menunjuk salah satu bangku taman yang tidak jauh dari keberadaan kami. Seperti biasa Ibu menyetujui tawaranku. “Ibu, Lihat! Awan sudah bergerombol pagi ini.” Ujarku sumringah sembari mengacungkan telunjuk kananku ke arah langit. Ah, menyenangkan sekali, menikmati suasana pagi bersama Ibu dan awan-awan itu.
“Iya. Indah sekali, Nak.” Respon Ibu turut memandang langit, sama sepertiku.
“Oh ya, Ibu guru pernah menceritakan dongeng pada adek, bahwa di atas awan itu ada sebuah negeri dan kehidupan lho, Bu.” Ucapku antusias.
“Oh ya? Memangnya kehidupan seperti apa di atas sana?” Tanya ibu ikut antusias saat mendengar celotehanku baru saja.
“Jadi, banyak manusia yang hidup dengan damai. Mereka adalah orang-orang baik yang dipilih Tuhan untuk mendiami tempat bernama Surga. Memangnya Surga itu ada di atas sana ya bu?” Tanyaku masih dengan nada kepolosan.
Ibu hanya terdiam menatapku. Senyumnya masih terulas cantik di raut wajahnya.
“Emm, Yang jelas, luas surga itu meliputi langit dan bumi. Surga itu sangat indah. Keindahan yang belum pernah dijumpai oleh mata, didengar oleh telinga, dan aroma yang belum tercium serta tersentuh kulit sedikitpun.”
Aku termangu mendengar penjelasan Ibu.
“Jadi, Surga itu sangat indah ya bu, sampai tidak pernah terbayangkan sebelumnya?” Ujarku masih tetap menatap gumpalan benda-benda putih yang tergantung di atas sana. “Ahh, adek ingin masuk surga bu. Agar kelak, adek bisa tidur-tiduran di awan-awan putih itu. Empuk pasti ya? Hehehe..” Candaku sembari tertawa.
“Kalau ingin ke surga, Ibadahnya harus rajin, tekun belajar, berbakti kepada orang tua, dan berakhlak baik. Itu namanya baru penghuni surga. Adek mau kan?
Aku mengangguk pertanda setuju. Aku harap, aku bisa meraih negeri di atas sana. Sebuah negeri terindah, negeri impianku. 

={}=[}={}={}={}={}={}={}={}={}=

 “Ibu, Apakah engkau sudah sampai di atas awan putih itu? Semoga Tuhan menempatkanmu menjadi salah satu penghuni surga.”
Aku yakin iya. Beliau adalah sosok yang teramat baik bagi kami, anak-anaknya. Ahh, waktu begitu cepat berjalan, bahkan sangat cepat. Aku masih terdiam melamun sembari menatap alat lukisku. Kutertunduk cukup lama merenungi tragedi mengerikan satu bulan yang lalu, tak jauh dari tempat ku berada.
Aku tak menyangka, aku harus kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidupku. Seorang wanita yanag selalu merawat dan menghiburku di setiap waktu.  Aku juga tak menyangka, motor itu terlalu cepat melaju hingga membuat ibuku tak sempat menghindarinya. Kututup mukaku dengan kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan kesedihan dan kepiluan yang sangat dalam. Aku menyesal, mengapa saat itu aku ingin sekali membeli es krim di seberang jalan ini, dan seperti biasa Ibu selalu menyetujui permintaanku. Ibu sangatlah baik.
Aku menangis. Ya, aku tak tahu sudah berapa kali air mata ini menetes meratapi kepergian Ibu. Kini aku hanya bisa menatap awan itu sendirian tanpa sentuhan lembut dan senyum tulusnya yang sangat menenangkan. Kudongakkan kepalaku mengamati gumpalan awan penuh misteri. Misteri yang terus menerus memenuhi kepalaku, tentang sebuah negeri nan indah. Kugerakkan jari jemariku perlahan, mencoba menyampaikan sesuatu melalui lukisan sederhana ini sembari tetap membayangkan sebuah negeri di atas awan itu. Negeri impianku.
Akulah yang semula ingin pergi ke sana, tetapi mengapa Ibu mendahuluiku? Butuh berminggu-minggu untuk menerima semua takdir  dan menanamkan keikhlasan untuk melepas kepergian beliau. Tapi, Ibu pernah berkata kepadaku, semua orang pasti akan mengalami hal yan sama, hanya saja pilihan antara surga atau neraka itu ada pada diri kita. Bagaimana kita mengendalikan nafsu dan keinginan kita untuk selalu berada pada jalan yang benar atau menyimpang ke jalan yang buruk. Ya aku sadar akan hal itu. Sang pencipta pasti tahu yang terbaik untuk hamba-hambaNya
“Halimah akan jadi anak yang baik. Tahu tidak bu? Hafalan Halimah sudah hampir satu juz. Halimah juga sudah tidak menunda-nunda solat lagi, Halimah akan menyusul Ibu ke sana suatu saat nanti, menatap dan menggenggam awan bersama Ibu.” Gumamku sendirian tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganku dari gumpalan-gumpalan putih tak beraturan itu.
Kuhembuskan nafasku ke udara bersamaan dengan tetesan air mata yang terus mengalir di pipiku. Kupandangi Langit itu dengan tatapan sendu. Hamparan Langit dan awan yang selalu menawarkan keindahan, sebagai pertanda bukti kekuasaan Tuhan. Segala puji bagiNya, atas penciptaan yang maha sempurna.

-TAMAT-

Selasa, 12 Mei 2015

Sinarnya


Aku melihatnya ,
Hati yang bening itu terpancar indah dari wajahnya.
Yaa, aku benar-benar melihatnya.
Sejatinya dia adalah orang yang lembut.
Sejatinya dia adalah orang yang ingin selalu membuat orang lain nyaman
Benar kan?

Aku benar-benar melihatnya
Di balik ketegasannya
Ada cahaya kelembutan yang terpancar jelas.

Ahh, aku mengaguminya,
Tapi, tentu bukan karena ingin memiliki.
Aku mengaguminya, mengapresiasi, sekaligus menghormatinya
Seseorang yang membawakan sinar kebahagiaan bagi orang lain
Seseorang yang sangat menginspirasiku selama ini

Siapa lagi kalau bukan dia?
Orang dengan sinar yang menenangkan itu.
Apakah mereka beranggapan sama?
Apa hanya aku?
Jikalau iya.
Maaf atas kekaguman ini, maaf jika ia mengusik dan mengganggumu.
Aku yakin mereka menangkap sinar yang sama pula, bukan?

-Walau keberadaanku akan menjadi bayangan yang menutupi sinarmu
-Aku harap keberadaanmu selalu dapat menyinari orang lain

Tidak ada kata selain “haru” yang bisa mewakili perasaanku saat ini
Tetaplah menjadi seperti itu
Tetaplah menjadi orang yang  menenangkan bagi orang lain
Orang yang membawa tawa dan kebahagiaan
Meski pun terkadang aku mengetahui raut sedih itu.
Tapi itulah kamu? Keceriaan akan mengalahkan segalanya
Terima kasih telah hadir di sini.
Terima kasih atas kekaguman semu ini.
Terima kasih atas segalanya


03.15 a.m, 18 April 2015
Sebuah ungkapan rasa yang tak mampu kuucapkan melalui lisan
Keep shining
Untukmu, Inspirasiku

Sabtu, 18 April 2015

Antara aku, kamu, dan HIMA


Apakah aku menyangka pertemuan ini?
Apakah kau juga menyangka pertemuan ini?
Apakah kita juga menyangka akan ada pertemuan ini?
Dalam ukhuwah HIMA, kita dipertemukan.
Semua kebersamaan yang terjalin indah tak selamanya berasal dari kehangatan dan keharmonisan juga bukan?
Juga seperti kita? 
Apakah terbesit sekali saja di dalam benak kita, akan ada kehangatan yang benar-benar mampu menghangatkan hatiku untuk menghadapi segala penat, yang selama ini hanya kubisa pendam sendirian ?
Dan aku memilih jalan yang tepat dalam menyudahi semua terpaan itu.
Sebuah Jalan bernama HIMA.
--##--##--##--
Yaa, semua berawal dari saat itu, saat aku memasuki gerbang kampus IV PGSD dan mulai mengenal beberapa organisasi di sana.  HIMA menjadi salah satu dari beberapa Organisasi di PGSD. Ketika aku mengetahuinya, apakah aku langsung berminat memasuki organisasi ini?
Sama sekali tidak. Pada Osmaru pertama, aku tidak menjadi orang yang mengacungkan jari untuk mendaftar organisasi ini. Entah Mengapa aku begitu menganggap sebelah mata sebuah organisasi saat itu. Aku beranggapan bahwa setiap organisasi hanyalah menyita waktu kita untuk bermimpi dan meraih prestasi. Namun anggapanku salah besar dan aku semakin  menyesali dugaan itu, saat aku melihat beberapa prestasi dari pengurus HIMA sendiri. Semenjak saat itu, aku mulai membukaa hati untuk mengikuti organisasi di kampus itu dan mencoba keluar dari zona nyuamanku selama ini. Di samping mengikuti SIM dan SKI, akhirnya aku memilih HIMA sebagai salah satu organisasi yang kuharapkan dapat mengembangkan softskillku ke depannya.
Dan pada saat kuliah umum pertama itu, aku memutuskan untuk mengambil formulir pendaftaran tersebut. Awalnya aku sangat pesimis dengan kemampuanku. Pasalnya, tidak ada organisasi yang benar-benar kutekuni selama SMA, paling lama hanya 1 tahun saja itupun tidak terlalu aktif, hehe. Satu per satu agenda seleksi pun aku ikuti, dari HIMASCO, PGSD Cup, Wawancara hingga PLDK. Dan Semuanya berkesan. Aku bertemu teman-teman dan kakak-kakak tingkat yang sangat mengisnpirasi.
HIMASCO
Mungkin aku tidak terlalu mengingat materi yang di sampaikan pembicara super saat itu. Karena review nya sudah kupost di blogku juga yaitu ingridelvina.blog.uns.ac.id (Eheem promosi :D). Yang jelas, HIMASCO benar-benar membuka hatiku untuk keluar dari zona nyamanku. Keluar dari kemalasan yang menipu dan menghalangi mimpi-mimpiku itu.
PGSD Cup
Nah, nah... Kemampuanku dalam berorganisasi benar-benar diuji di sini. Sebenarnya, aku tidak ingin mengingat kejadian-kejadian dari sana yang kebanyakan sangat memalukan. Tetapi, aku berusaha bernostalgia kembali, mengenang masa-masa yang tentu saja memiliki banyak hikmah dan pengalaman itu.

PGSD Cup adalah salah satu program kerja dari HMA yang  memiliki beberapa lomba bidang olahraga untuk dipertandingkan. Yang membuat berbeda adalah panitianya berasal dari angkatan 2014, yang notabenenya adalah mahasiswa baru saat itu. Mungkin bagi yang lain menjadi salah satu panitia di sana adalah hal yang biasa. Tapi tidak untukku. Tidak akan menjadi hal biasa saat aku benar-benar tak memiliki pengalaman untuk mengkoordinir acara selama ini. Apalagi aku ditempatkan menjadi salah satu penanggung jawab lomba di sana. Jeng, jeng… Dan perjuangan itu pun dimulai.
Setiap detik hari-hariku selama sebulan itu pun dipenuhi kegugupan. Perasaan was-was, takut, dan cemas bercampur jadi satu, teraduk-aduk dan menetap di kepalaku. Hanya saja aku tidak terlalu menampakkannya jadi tidak secemas seperti yang kalian pikirkan bukan? Padahal isinya? Jangan tanya deh!
Namun, aku sedikit merasa lega, karena setiap lomba terdapat dua temanku lain dan kakak kelas yang menjadi pendamping. Nah untuk tenis meja sendiri ada mas Bima.  Ya, sedikit lega. Setidaknya aku tidak bekerja seorang diri. Walau begitu, sepertinya ada masalah yang akan memenuhi kepalaku kembali. Kok cowok? 
Masalah itu adalah saat aku harus meminta arahan lomba dari kakak kelasku itu. Bukan apa-apa, tapi aku dulunya adalah perempuan pemalu, yang sama sekali nggak biasa interaksi dengan laki-laki yang baru kukenal apalagi sama kakak kelas . Aduuh -.-
Walau sebenarnya aku begitu ingin berkata segala hal, tapi keraguanku mengalahkan segalanya. Butuh pikiran berpuluh-pluh kali, untuk tanya kepada Mas Bima, walaupun hanya sekedar menanyakan “Mas, nanti jadi wasit ya?” atau “Mas, bisa pinjam bet?” Aaaa maluu banget. Nggak bisa, nggak bisa! Jadi, jangan salah paham dengan sifatku, ya. Walau pun aku terkesan pendiam dan jarang menunjukkan keramahan, tapi aku nggak sombong kok. Itulah salah satu sifat yan menjadi kekuranganku selama ini, sifat pendiam, pemalu dan nggak enakan. Duh, kok kekurangan semua u,u.
Walau begitu, berkat bantuan mas Bima semuanya dapat  lancar. Walaupun banyak sekali masalah-masalah dan konflik batin di setiap perjalanan PGSD Cup. Dari banyak kakak kelas yang protes, kakak kelas yang tiba-tiba ganti jam karena ada kuliah dadakan, atau dari pemain yang lama banget nggak datang, sampai-sampai ditunggu 1 jam dan akhirnya nggak jadi. Ya Allah, aku harus kuat. Dan pada suatu hari, ada saatnya benar-benar kualami kecemasan yang begitu nyata. Mengapa Dari 10 wasit yang saya hubungi dan lagi-lagi dengan dorongan yang begitu kuat dari dalam diri. Semuanya mengatakan,” Aku nggak bisa dek” So, This is the heartache?

Ada lagi! Saat itu, di tengah pelajaran aku diam-diam mengetik SMS kepada mereka untuk sekedar meminta konfirmasi atau mengobrol dengan temanku yang sesama PJ lomba agar tidak terjadi tabrakan waktu. Tapi ada saatnya dosenku menngetahuiku mengirim sms, walaupun sebenarnya beliau hanya memandangku sinis tanpa menegurku. Tapi aku jadi nggak enak juga, jadi merasa bersalah lhoo, masa calon guru nggak memperhatikan pelajaran?  Tapi itu murni kesalahanku, aku yang tidak bisa membagi waktu berorganisasi dan belajar. Dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Maklum, anak baru.

Dan ketika kita sudah memfix an jadwal pertandingan, ada ada saja yang masih protes. Ya ampun, terkadang saya frustasi sendiri. Bukankah HIMA itu udah baik hati ya? Ada kuliah jadwal lomba bisa diundur, dimajuin bisa, itupun masih banyak yang protes. Ya Allah berilah pahala yang banyak untuk HIMA, Hhehe :D. Tidak berhenti di situ saja. Entah mengapa, mulai saat itu, Pembicaraanku dengan ganing (temanku di PJ badminton) tak pernah lepas dari pertandingan, jadwal kuliah kakak tingkat, wasit, dan lain sebagainya. Ahh, kenapa kita terlalu kepo kpada mereka. Ckckckck. Namun, Kabar baiknya Aku pun jadi kenal beberapa kakak tingkat, yang ternyata ada kakak tingkat masa SMP dan SMA yang belum kuketahui sebelumnya. Lalu, Aku yang buta pengetahuan dari tenis meja pun sampai hapal peraturan mainnya. Alhamdulillah deh. :o
Pokoknya hari-hariku dipenuhi dengan rasa nggak enak sama kakak tingkat dan itu berlangsung lama. Walau begitu, Mas Bima, mas baim, mbak Sandra, mas hendrik sebagai wasit dan  teman-teman lain alifah, dwi arum, rosa, ganing, dan lain sebagainya yang tidak bisa kusebutkan satu persatu selalu berbaik hati membantuku dan mampu menjadikan pertandingan kembali seperti yang sudah direncanakan. Terima kasih sekali. Kalau tidak ada kalian entah aku jadi apa? Tapi emang karena saya orangnya belum ahli mengkoordinir acara, ada-ada saja halangan yang terjadi, dan ujung-ujungnya rasa nggak enakanku itu hadir lagi. Maaf ya.
 
Dan ketika semua itu akan berakhir, ada kelegaan sendiri. Namun mengapa harus ada air mata di ujungnya? Yaa, ada di saat aku tidak bisa menahan air mataku  saat itu. Aku lelah dengan semua ini, aku lelah dengan kondisi yang selalu kontra denganku, aku lelah menjadi kecemasan orang tuaku, dan aku lelah jika saja aku tidak bisa bekerja dengan baik di setiap acara. Malam itu, aku ingat sekali, air mata ini tidak bisa kutahan, kubiarkan mengalir begitu deras selepas sholat maghrib. Dan aku tidak berhasil menutuupinya, aku tidak berhasil menyembunyikan kesedihanku dari Mbak Hana, linda, Ita, Alifah, ganing dan Rosa yang saat itu mengetahuiku menangis. Mereka bertanya alasannya?
Tapi, maaf atas segala kebohongan setiap kali kalian bertanya alasanku menangis. Aku hanya tidak ingin kalian merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan. Jadi, yang kubutuhkan adalah sendiri. Maaf. Dan di tengah perjalanan pulang, aku melanjutkan tangisanku. Waktu yang tEpat untuk menangis di tengah kegelapan malam dan di sela deru kendaraan yang mampu menutupi tangis dan isakanku kala itu. 
Pesan dari mbak Hana yang benar-benar kuingat adalah biarkan terpaan dan cobaan itu menghampirimu. Karena mereka akan menguatkan jiwamu. Di tengah hiburan dan tepukan pundak yang menghangatkan itu, ada rasa yang tidak pernah berubah dari sini, dari sebuah organisasi bernama HIMA.
Pgsd Cup telah berakhir. Alhamdulillah setidaknya aku sedikit lega.  Walaupun masih ada rangkaian seleksi yang menunggu, tetapi entah mengapa aku ingin mengakhiri semua ini. Bagiku sudah terlalu banyak pengorbanan yang aku jalani. Namun, Apakah aku akan mundur begitu saja, ketika semua rintangan itu sudah berhasil kulewati. Apa yg harus kulakukan?
Dan selama seleksi selanjutnya adalah wawancara. Ketika seleksi wawancara itu berlangsung, banyak pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan, ada yang bisa kujawab, ada yang nggak bisa, ada yang ngawur. Tapi kebanyakan nggak bisa jawab.  Dan tiba saatnya, Ketika pengumuman hasil seleksi itu keluar, aku hanya bisa pasrah. Aku tidak berharap banyak atau sampai berharap diterima, sama sekali tidak. Tetapi, kenyataan berkata lain. Kertas putih itu menuliskan statusku sebagai calon pengurus HIMA selnjutnya. Satu amanah menunggu untuk dikerjakan. Aku terpaku sejenak, kebingungan menyelimuti diriku. Terkadang aku berpikir, apa alasan mereka memilihku? Apa kelebihan yang aku miliki hingga mereka menunjukku menjadi salah satu di antara orang-orang berpengalaman dan berprestasi di sana? Bukankah, mereka juga sudah melihat kinerjaku selama magang. Banyak sekali kekurangan yang kulakukan, tapi aku hanya dapat menerimanya dengan lapang dada. Allah pasti memiliki rencana lain di balik semua ini. I will do my best !
Dari segala aktivitas di atas, banyak hikmah yang dapat kuambil. Bahkan ketika aku sadar, keuntungan dan hikmah itu lebih besar dari segala rintangan dan terpaan selama ini. Sebuah pengalaman yang sangat berat untuk ditinggalkan apalagi diabaikan. Pokoknya aku tidak pernah menyesal bergabung dengan HIMA, aku tidak pernah menyesal atas semua rintangan selama ini, dan aku tidak akan menyesali banyaknya air mata yang telah tumpah. Karena semua sudah terbayarkan. Terbayarkan dengan segala bentuk pengalaman dan hikmah di setiap kebersamaan ini, bersama mereka. Keluarga baruku. Sepertinya pilihanku sangatlah tepat.
PLDK
Salah satu program kerja PKO yang diikuti oleh calon pengurus HIMA yang baru. Salah satu pengalaman yang lagi-lagi menjadi sangat berharga untukku. Pasalnya aku belum pernah menanjak setinggi itu? Hahaha.  Bagi yang mau melihat rincian pengertiannya bisa dilihat di blog UNSku “INGRIDELVINA.BLOG.UNS.AC.ID” *Err promosi lagi? Abaikan :D*
Ya, apa kata yang tepat saat menggambarkan PLDK?
Mengejutkan!!!
Benar-benar mengejutkan. Oh, ternyata ini to yang dibincang-bincangkan teman-teman dulu. Kalau PLDK itu menegangkan dan bakal menguji mental dan fisik. Yup, kalian benar. Dan itu semua diluar dugaan. Pikiranku sebelumnya, PLDK itu bakalan piknik bareng, makan bareng, nyanyi bareng, liat bintang bareng-bareng di malam hari. Tapi itu semua salah besar teman- teman, dan saya menyesal sudah mengkhayalkannya. 
Pertama kalinya kami dipanggil , sekitar 30 orang dikumpulkan di Gor PGSD. Aku sudah berprasangka buruk terus waktu itu. Gimana tidak, kami sudah telat 10 menit dan dengan santainya kita ngobrol dan ketawa-ketawa di tengah ekspresi kakak-kakak tingkat yang serius-serius itu. Bayangkan!
Lalu kami disuruh berbaris. Dan diberi pengarahan, dan terkejutnya lagi! Perbincangan di luar itu menjadi kenyataan. Kami harus pergi ke tempat tujuan naik bis dengan uang yang sudah ditentukan, lalu masih mendaki dengan tas carrier yang beratnya itu lhoo. 
Sebenarnya, banyak sekali pengalaman selama di bis. Bagaimana tidak? Selama perjalanan, di tengah penumpang lain kami bernyanyi mars HIMA. Bisa dibayangkan, ketika penumapng lain diam, kita seperti berubah menjadi penyanyi yang siap menghibur mereka. Woow, teman-temanku benar-benar keren.
Ada juga mas-mas penumpang Bis yang baik banget sama kita. Kebetulan, bisanya lagi penuh sesak, dan semakin bertambah sesak ketika tas carrier kami memasukinya. Kebetulan sekali aku dan dwi arum berada di belakang ya. Terus tiba-tiba kernetnya nyuruh tas carrier kita dipindah ke pojok atas bis, karena dinilai makan banyak tempat. Hla memang iya :D. Terus kita kan bingung, nanti yen jatuh gimana? Lalu ada mas-mas yang duduk di belakang juga menawarkan diri untuk menjaga tas-tas kita dengan senang hati. Jadi mas-masnya itu duduk di pojokan atas terus megangi tas kita gitu, tanpa rasa malu. Oh, jangan meleleh ya, biasa aja! Big thanks banget deh buat mas-mas tanpa nama itu hehe.
Di tengah perjalanan panjang itu, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sebenarnya bukan tempat tujuan yang sebenarnya sih. Karena tempat tujuannya itu masih ada di atas nan jauh di sana. Ada beberapa pos yang menunggu kita, dan saat itu pula aku hampir menyerah. Bagaimana tidak? Aku sangat kelelahan memikul beban itu apalagi di tambah jalan yang menanjak. Walau sebenarnya teman-teman lain saling memberi semangat dan dorongan. Tapi itu tidak cukup membantu mengatasi rasa lelahku. Rasanya ingin sekali menyerah.
Aku pengen berhenti sedikit lama, tapi karena mendengar semangat dari kakak tingkat, siapa ya? Mas nanda sama mas dayat yang nasihatin temenku lain, “Masa sudah sampai sini sudah mau nyerah dek?”. Aku pun jadi semangat lagi. Perjalanan panjang itu benar-benar bermakna sekaligus berkesan. Perjalanan bersama dengan suasana malam yang begitu syahdu, ketawa bareng, istirahat bareng, capek bareng, minum bareng, makan bareng, dan berkeluh kesah bareng, semuanya komplit deh. Dan best momen adalah, saat kita beristirahat sejenak untuk sekedar melepas penat kemudian Ribuan bintang dan kemerlip cahaya kota di bawah sana menyambut mata kami malam itu. Aku dapat melihatnya, keindahan dan pengalaman yang tidak dapat terbayarkan oleh apapun. Dan sejatinya aku baru menyadari makna dari perjalanan panjang ini.
Dan akhirnya sampailah kita dipuncak tujuan kami. 2 hari kami habiskan untuk mendapatkan pelatihan kepemimpinan itu. Waktu yang benar-benar berharga untuk dilewatkan, dari tidur di tenda bareng-bareng, masak bareng, makan bareng, sholat bareng, dan berpetualang bareng dengan keadaan yang sangat menegangkan :D. Dari ditegur habis-habisan sama mas Bima, mas Ento, mas reza. Duh, bener-bener menguji mental. Tapi di antara semuanya, aku paling takut sama mas Reza. Gimana ya, walau pun setiap teguran dan ketegasan mereka nggak pernah tak masukin hati. Tapi kenapa marahnya mas Reza itu ngena banget ya? Kenapa ya? Entah lah
Ketika hari terakhir PLDK itu akan tiba. Pada waktu fajar yang tak akan terlupa. Kami berkumpul meneriakkan nama seseorang. Hari itu dimana saya teriak-teriak nggak jelas buat mengejar seseorang. Dan seumur-umur saya nggak pernah ngejar seseuatu sampai segitu perjuangannya. Sampe harus nangis, sakit, pegel. Rasanya itu aku sudah mencurahkan segala isi hatiku, kemudian mbak-mbak yang mendampingku masih suruh teriak-teriak lagi. Ya Allah, aku sudah kehabisan kata-kata hehe. Dan kalian tahu apa rasanya jadi aku? Rasanya jadi orang yang biasanya pendiam terus disuruh teriak-teriak sekuat tenaga seperti itu? Malunya nggak ketulungan, malu banget. Bahkan aku sampai nggak tega lihat diriku di videonya.

Tapi sekali lagi, semua itu benar-benar berhikmah. Setelah kita bernangis-nangis ria. Semuanya kembali normal. Tak ada ketegangan, tak ada teguran, tak ada dendam. Semuanya berbaur menjadi satu kembali dalam sebuah kebersamaan. Tahukah kalian apa yang dibenakku saati itu?

Aku terharu..
Tak ada kalimat yang lebih tepat menggambarkan keadaanku saat itu selain haru. Aku bersyukur bahwa seseorang penuh kekurangan sepertiku bisa menjadi keluarga dalam lingkup HIMA. Sebuah keluarga yang tidak bisa kudapatkan di lain tempat. Alhamdulillah.
Semenjak itu, kami saling memperbaiki diri, menambah komitmen, dan semakin mengikat tali persaudaraan kami di dalam keluarga besar HIMA. Banyak sekali kenangan hingga akhirnya aku ditempatkan dalam divisi kominfo dengan kisah antara aku, kamu dan kominfo  yang akan saya liput pada edisi selanjutnya. Eciee :D
Ada yang beda sepulang PLDK. Alhamdulillah kita jadi semakin solid saja, mungkin itulah alasan dari tujuan PLDK sesungguhnya. Dan yang paling aneh, saya jadi nggak gampang nangis lagi pas nonton film atau baca cerita sedih. T_T. Padahal mereka genre favoritku. Yaaa, mungkin hikmah yang lain adalah itu, hal yang membuat kita lebih tegar dan kuat, serta lebih yakin dalam menjalankan segala program kerja HIMA.
HIMA telah mengajarkanaku banyak hal. Pilihanku sungguhlah tepat. Benar-benar banyak yang berubah dari diriku. Dari diriku yang mulai bersikap sedikit terbuka, berlatih ngomong di depan banyak orang, dan juga pengalaman handle acara. Aaah, lagi-lagi tak ada kata yang pas selain haru. Malam itu, UP GRADING HIMA 1.
 
Sebuah acara yang keren dan kece. Karena kami bisa didekatkan lagi dan  diharmoniskan kembali dalam lingkup sebuah keluarga. Sebuah acara yang membuatku seperti bernostalgia kembali. Bernostalgia tentang masa itu, masa dimana kita dipertemukan dengan ketidaksengajaan. Dan sekarang kita sudah bertransformasi menjadi sebuah keluarga yang sangat kompak. 
Banyak sekali perubahan dari diriku. Banyak sekali inspirasi yang datang, kekaguman yang datang, dan pengalaman yang berharga pula. Aku banyak mengambil figur dari kakak tingkat dan  teman-teman yang semakin membuatku mengintropeksi diriku kembali, menyadari bahwa diri ini masih terlalu banyak kekurangan dalam segala hal. Aku bahagia bisa belajar bersama kalian. Aku bahagia, ketika aku berhasil melegakan setiap beban yang terkadang menghampiri, dan seakan semua beban itu lenyap tak berbekas ketika wajah-wajah itu menyuguhkan keramahan dan canda tawa yang selalu menentramkan.  Tahukah kalian seberapa besar perasaan bahagiaku? Besar sekali. Sebuah rasa yang tak mungkin aku ungkapkan melalui lisan. Karena pun aku tidak berani melakukannya. Aku terharu. Apapakah kalian tahu? Entah mengapa aku tiba-tiba ingin menangis di saat materi pertama kala itu, tapi aku tidak tahu alasannya. Mungkin karena kalian dan kebersamaan ini. Aku ingin kebersamaan ini terus terjalin sekarang dan seterusnya. Aku ingin selalu menatap mereka, wajah-wajah penuh keceriaan dan senyuman yang menenangkan. 
Lagi-lagi dibalik diamku, aku menatap  satu per satu sinar wajah itu, tepat di sana, di bawah lampu malam hari. Tepat ketika suara-suara itu saling menyahut penuh kehangatan bersama canda dan tawa yang tak pernah lepas darinya
Terima kasih telah menerimaku, terima kasih atas ukhuwah ini. Maaf apabila kalian tidak nyaman berada di dekatku dengan sifatku ini. Maaf telah menjadi teman yang membosankan bagi kalian, walau sebenarnya aku juga ingin menjadi salah satu orang yang dapat berbaur dan mencairkan suasana seperti yang lain. Tetapi, itulah kalian, ketulusan hati itu sangatlah kental terasa. Aku beruntung bisa mengenal kalian. Aku beruntung bisa berada di sini. Sebuah organisasi yang awalnya terjalani penuh ketegangan dan kesedihan. Tapi bukankah kebahagiaan itu tak selalu berawal indah. Dan bukankah kita akan bisa lebih memaknai kebahagiaan setelah melalui kejadian yang menyakitkan terlebih dahulu? Dengan begitu kita akan lebih menghargainya, berusaha menjaga, dan berharap kebersamaan berharga ini akan tetap ada, selamanya.
Terima kasih untuk segalanya
Aku sayang kalian
Sukoharjo, 18 April 2015
Untuk kalian, keluarga besarku.
Ditulis dengan curahan perasaan yang  sesungguhnya

Jumat, 10 April 2015

Sebuah Penghargaan



Alhamdulillah punya kesempatan untuk menulis lagi,
 Lagi-lagi Tulisan ini berawal dari sebuah memori sederhana penuh rasa.

Hati yang berdebar masih mengiringi jari-jariku yang lincah menari di atas keyboard lama.
Sunggingan senyum ini masih nampak di setiap memori yang berlalu baru saja.
Sebuah memori sederhana yang membuat perasaanku luluh seketika
Sebuah memori berupa tulisan denotatif yang sangat dimengerti maknanya.

Sebuah tulisan dari salah satu pemimpin sekaligus inspirasiku dalam berorganisasi.
Bisakah kalian membayangkan bagaimana rasanya ketika sifat – sifat kalian dipuji oleh mereka yang kalian hormati?
Aku dapat menebaknya..
Terharu, bahagia, bangga?
Tapi hati yang tak berhenti berdebar ini menjadi jawaban yang paling tepat
Untuk menggambarkan sebuah debaran tanpa makna.

Sebuah tulisan mengenai penghargaan terhadap sifat-sifat buruk.
Apakah hal itu bisa dipercaya?
Apa manfaat dari sifat buruk hingga mereka dapat dihargai?
Aku juga tak mengerti,
Aku hanya manusia yang hina tanpa kelebihan yang berarti
Tapi mengapa sifat yang ku anggap buruk itu malah kau puji?
Sifat buruk yang ingin sekali kusingkirkan jauh - jauh
Tapi, Apakah aku akan tetap menghilangkannya meskipun pujian itu justru datang untuknya?

Sekalipun pujian itu bukan untukku, tapi aku sudah sangat berbahagia..
Tidakkah kau mengetahui betapa bahagianya aku?
Hatiku yang masih tak berhenti berdebar inilah yang menjadi penandanya

Aku pun penasaran, sama sepertimu
Penasaran mengenai seseorang yang kau kagumi akan sifatnya, bukan?
Seseorang yang memiliki sifat sepertiku.

Ah, aku terlalu tinggi berkhayal
Mana mungkin 'seseorang' itu aku?
Tidak Mungkin! Sangat Tidak Mungkin!
Yang pasti aku sudah cukup bahagia dengan penghargaanmu
Terlepas seseorang itu bukan diriku
Yang terpenting sifat-sifatku pun sudah berada pada dirinya
Namun, Apakah aku juga mendapat penghargaan yang sama sepertinya?


--Untukmu,
Inspirasiku :)