Dreaming in حلالا way. . .

Halaman

Cari Blog Ini

Apa sih artinya?

Selasa, 04 Juli 2017

TULISAN



Memilah apa yang layak kita tulis. Semenjak beberapa hari lalu, saya baru sadar, apa yang kita tulis ternyata sangat mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan. Betapa besar pengaruh sebuah tulisan bagi para pembaca yang mungkin sebelumnya sudah mengikuti tulisan kita. Seperti halnya para penggemar buku dari penulis-penulis terkenal dunia ini. Tanpa sadar, tulisan-tulisan itulah yang akan mempengaruhi jiwa dan kepribadian para pembaca.
Beberapa hari yang lalu ketika saya berkunjung di salah satu toko buku kota, saya melihat seorang penulis yang tidak diragukan lagi kualitas dan keindahan tulisan di dalam buku-bukunya. Saya juga sangat mengagumi penulis itu dalam merangkai kata demi kata menjadi tulisan yang apik hingga menyentuh rasa ketika dibaca. Tak pelak, banyak sekali pengunjung yang memadati acara meet and greet tersebut. Hal ini menunjukkan betapa seorang penulis memiliki pengaruh yang besar untuk menyebarkan pemikirannya kepada para pembaca yang sudah bertahun-tahun mengikuti tulisannya. Hingga sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa, pikiran yang kita tuangkan dalam tulisan itulah yang hendaknya diluruskan.
Mungkin sebagian dari kita kita sibuk menulis beberapa cerita yang dibumbui kisah cinta remaja penuh romantisme dan angan-angan kosong tentang kekasih pujaan hati dan cinta bertepuk sebelah tangan.-begitu pun dengan saya dahulu-. Rasanya tema cinta menjadi salah satu topik tulisan yang tak lekang oleh jaman. Benar saja, berdasarkan pengalaman saya saat membaca dan menulis beberapa tulisan, akan lebih mudah menuangkan perasaan dalam tulisan kita, menjadi sebuah rangkaian kalimat yang indah dan menyentuh jiwa, seperti gombalan-gombalan cinta yang mungkin sudah umum kita dengar selama ini ya. Namun tak sedikit yang sibuk mengisi ceritanya dengan perjuangan memperjuangkan kehidupannya baik dalam urusan karir, pendidikan, dan lain-lain
Mungkin kita tak menyadari dampaknya secara langsung saat ini juga. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Ketika Saat ini kita sedang menulis cerita. Anak-anak dan murid-murid kita kelak mungkin akan bertanya tentang semua itu. Mungkin, kelak kita akan sibuk memilah mana cerita yang akan kita sampaikan. Mungkin kita pula tidak bisa menceritakannya karena tidak ada cerita yang menarik dan bijak, sehingga kita terpaksa membuat cerita karangan. Mungkin kita akan tersenyum antusias dan menanyakan kembali kepada anak-anak kita, cerita mana yang ingin mereka dengar.
Saat ini kita sedang menulis seluruh jenis cerita dan tulisan. Cerita itu sedang berjalan sehinga bisa menjadi pembelajaran bagi anak-anak dan mungkin murid-murid kita kelak. Kita harus menjadi lebih bijaksana dengan apa yang kita ucap dan tulis. Karena merekalah yang berhak mendapatkan pembelajaran hidup yang benar tanpa mengulangi kesalahan yang sama.
Sehingga, lambat laun saya mulai menyadari pasca hijrah ini, bahwa proses hijrah tidak hanya menyangkut perubahan pakaian dan perilaku saja. Namun, hijrah juga tentang bagaimana kita menghasilkan karya yang bermanfaat, karya yang lahir dari pikiran-pikiran yang jernih dan tidak haram tentunya. Begitu pun dengan tulisan, akan sangat disayangkan jika tulisan kita pun tidak ikut berhijrah sebagaimana niat penulisnya.
Dan sekarang saya baru sadar, betapa pentingnya memilah apa yang layak kita tulis. Tak lain dan tak pelak adalah untuk menghindari pemaknaan buruk dari pembaca kita. Tujuan lain adalah agar kita bukan termasuk orang yang menyampaikan tulisan-tulisan yang tak berfaedah. Jangan sampai orang lain terpengaruh konten tulisan yang sebenarnya tidak baik namun terkesan menarik dan melenakan perasaan karena keindahan majas dan diksinya. Jadikan tulisan kita tulisan yang bermanfaat, tulisan yang mengandung nilai-nilai moral dan pesan kebaikan.
Semangat menulis yaa J

Minggu, 02 Juli 2017

Mengklarifikasi Perasaan



Begitu banyak fenomena yang mengundang banyak kejadian di sekitar kita dengan mudahnya. Ada yang manis, ada yang pahit, dan tak sedikit hanya datar saja. Sebagai manusia kita menikmatinya dengan perasaan masing-masing.
Bicara soal perasaan, sejatinya perasaan adalah sebuah karunia dari ALLAH. Rasa yang dimiliki manusia mampu menandakan bahwa kita sebagai makhluk yang paling mulia. Rasa adalah sesutu yang sangat penting bagi jiwa manusia itu sendiri. Dengan rasa, kita menjadi manusia yang peka, dengan rasa kita menjadi manusia yang mudah peduli dengan orang lain. Namun, dengan rasa pula kadang kita sering membenci, menghakimi, bahkan memusuhi manusia lain. Pada dasarnya semua tergantung niat menjaga perasaan kita masing-masing.
Tak terkecuali perasaan cinta. Sering kita mengaitkan perasaan itu dengan asumsi kita, menerka-nerka apakah cinta sudah sampai pada orang yang tepat? Berasumsi bahwa orang itu adalah teman hidupnya yang dicari selama ini. Namun pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung menimbulkan jawaban. Tentu saja tak berjawab, semua hannya sebatas asumsi, tidak lebih.
Di dunia ini banyak sekali orang-orang –mungkin dengan penulis tulisan ini- yang menebak-nebak bahwa seseorang adalah jodohnya. Berasumsi sedemikian rupa hingga muncul angan-angan yang melalaikan. Kita lupa bahwa urusan jodoh adalah urusan Tuhan, tak terkecuali perasaan.
Sungguh sulit mengalami hidup pada masa sekarang, ketika usia masih bersahabat dan peka dengan perasaan-perasaan merah jambu tersebut. Menurutku, kita perlu mengklarifikasi perasaan itu, sendiri setidaknya hal itu membuat hati kita tenang, karena kita tahu kebenaran tentang perasaan yang sebelumnya hanya sebatas asumsi ini.

Pertemuan.

Aku tak tahu bagaimana cara  yang tepat untuk mengklarifikasi perasaan selain bertemu -dan tentu saja bermunajat pada Tuhan yang memiliki rasa ini-. Setidaknya, keputusan untuk bertemu tidak membuat kita berdiam diri terlalu lama, terkepung dengan pikiran-pikiran yang pasti, angan-angan yang kelabu, dan buaian-buaian rasa yang semu.
Menurutku lagi, kita tidak perlu mengklarifikasi perasaan secara gamblang pada orang yang kita tuju. Maksudku di sini, mengungkapkan dengan bertanya langsung. Menurutku cara itu lumayan susah dan aku yakin sebagian dari kita tidak memiliki keberanian yang lebih untuk bertanya hal itu. Bagaimana aku bisa tahu? Yah, karena aku juga pernah jatuh cinta, hehe
Saranku, kita bisa melihat responnya saat melihat ataupun berbincang dengan kita. Entah bagaimana caranya, pada tahap ini perasaanmu lah yang berperan besar. Sulit menjelaskannya, namun jika kau memiliki kepekaan yang besar, maka kau akan temukan jawabannya. Apakah perasaanmu menuju sasaran yang tepat? Atau jangan-jangan asumsimu yang mendominasi hati dan pikiranmu, menutupi kenyataan bahwa sebenarnya bukan kamu yang ia cari, tapi orang lain.
Semoga, kita bukan termasuk orang-orang yang panjang angan.

Tentang Keresahan Anak dan Kebahagiaan orang tua



Membahagiakan, membanggakan dan berbakti kepada kedua orang tua pasti menjadi tujuan besar bagi semua anak di muka bumi ini. Tentu saja, kebahagian mereka tumbuh menjadi pemicu semangat seorang anak, sebagai bentuk balas budi yang mungkin tidak akan pernah setara dengan kasih sayang yang telah mereka beri selama ini.
Namun tak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk hal ini. Mungkin sebagian anak merasa belum mampu membahagiakan orang tua, walau dalam hatinya sangat ingin melakukan hal tersebut. Pun denganku sekarang, sejujurnya aku belum mengerti apa – apa yang membuat mereka bahagia. Selama perjalanan hidupku sebagai siswa dan mahasiswa, perasaan bahagia dari kedua orang tua cukup mudah diartikan dari senyuman yang mereka ulas. Ketika mendapati anaknya juara kelas, memperoleh penghargaan, menambah piala di rumah, dan hingga lulus tes PTN. Semua itu menjadi asumsi kebahagiaan orang tua dari segi ukuranku saat ini.
Namun entah mengapa, asumsiku tentang kebahagiaan orang tua sebagai mahasiswa yang sedang menempuh tingkat akhir berubah seketika. Aku merasa ukuran kebahagiaan orang tua pun ikut bertambah. Hingga saat ini, ketika aku tak pernah lagi menambah piala di rumah, vakum menulis, hingga tidak terlalu menggebu dalam mengikuti lomba, jarang sekali terlihat senyum terukir dari wajah mereka. Sedih? Tentu saja.
Karena aku berpikir bahwa ukuran kebahagiaan sebagai mahasiswa yang tidak menunggu lama lagi akan mengalami kehidupan pasca kampus, tidak lagi diukur dari prestasi-prestasi itu. Aku berpikir mereka akan lebih bahagia jika anaknya memperoleh pekerjaan yang membuatnya nyaman, mendapatkan penghasilan yang membuat kehidupannya terjamin, hingga menemukan jodoh yang tepat sesuai umurnya yang sudah beranjak matang.
Dan untuk mencapainya tidaklah semudah hanya dengan berada di depan laptop, berselancar di dunia maya, atau mencoba beberapa lomba untuk mencari-cari keberuntungan memperoleh penghargaan-penghargaan seperti dahulu. Jika boleh jujur, sungguh aku belum dapat menjamin bahwa aku bisa mendapatkan itu semua tepat waktu, saat pasca kampus kelak. Sungguh, dalam nurani seorang anak, ingin sekali mengenyam kesuksesan seketikan, ingin sekali memperoleh penghasilan yang dapat diberikan untuk orang tua, ingin sekali menjadi mandiri seperti orang-orang yang sudah bekerja bertahun-tahun, ingin sekali rasanya membahagiakan orang tua yang sudah berharap bahwa anaknya dapat menikah pada usia yang muda.
Andai Bapak dan Ibu tahu perasaan anakmu ini, sungguh aku ingin mencapai itu semua saat lulus nanti. Namun, sekali lagi urusan rezeki dan jodoh bukanlah kuasaku, ALLAH lah yang mengatur. Terlepas dari benar tidaknya asumsi-asumsi dari pikiranku itu, setidaknya aku dapat mengukur, bahwa kelak diri ini tidak akan menetapkan ukuran kebahagian yang terlalu tinggi untuk anakku kelak. Supaya mereka tetap dapat menjalani hidupNya dengan tenang, menjalani hidup hanya untuk satu tujuan, mengharap Ridho ALLAH SWT. Saat ini, aku hanya bisa berdoa semoga ALLAH mempermudah jalan dan urusan anak-anak yang masih berjuang untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Aamiin.

Kamis, 29 Juni 2017

Belajar Arti Perjuangan




Begitu banyak orang-orang di dunia ini yang memiliki rintangan, jalan, dan ujian yang berbeda dalam menjalani hidupnya. Semua itu terangkum dalam bentuk perjuangan seorang manusia untuk mencapai sebuah tujuan. Tidak terkecuali perjuangan setiap orang untuk menuntut ilmu.
Dalam hidup ini, saya selalu meyakini bahwa ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga di dunia ini. Sesuatu yang dapat meningkatkan derajat seoang hamba selain ketakwaannya. Sebagaimana yang tertulis dalam Quran Surat Al Muzadallah (58) : 11

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah/58: 11)

Namun tak semua orang memiliki keberuntungan dan kemudahan yang sama dalam menuntut ilmu. Jika kita lihat di luar sana, begitu banyak orang yang harus berjuang mati-matian untuk menuntut ilmu. Semisal saja, ketika kita dapat pergi ke sekolah hanya dengan hitungan menit, di luar sana masih banyak anak-anak seumuran kita yang harus menempuh perjalanan berjam-jam utnuk mencapai sekolahnya tanpa keluhan sedikitpun. Ketika kita dapat memperoleh bahan dan sumber belajar dengan mudahnya, mungkin di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang tidak berkesempatan membaca buku, bukan karena tidak mau, namun tidak mampu untuk memilikinya entah karena minimnya pengeluaran atau bahakan penghalang lainnya, dan masih banyak lagi, Contoh tersebut hanyalah segelintir kenyataan yang sering kita lupakan di sekitar kita.

Lalu masihkah kita tidak bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang?
Saya selalu mengagumi orang-orang yang memiliki niat dan keinginan utnuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dengan tujuan menggapai ridho ALLAH, walaupun harus ditempuh dengan perjuangan yang tak mudah, bahkan hingga mengorbankan harta yang dimilikinya. Tetapi tidak masalah, karena Harta akan habis sedangkan ilmu tidak. Harta adalah sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat, sehingga harus digunakan untuk hal-hal yang berfaedah, termasuk digunakan untuk meniti jalan mencapai ilmu tersebut.
Beberapa hari yang lalu, saya diberi kesempatan untuk bersilaturahmi dengan teman-teman pada masa sekolah menengah pertama. Betapa beruntungnya dipertemukan dalam lingkaran tali silaturahmi dengan orang-orang yang Insyaallah memiliki pemikiran dan niat yang baik dalam hidupnya. Sebagian besar dari mereka sedang menempuh kuliah di beberapa perguruan tinggi di dalam maupun luar daerah, namun tak sedikit ada yang sudah lulus dan bekerja pula. Betapa beruntungnya saya memiliki teman-teman hebat seperti mereka.
Namun ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari beberapa kisah perjuangan teman saya dalam menuntut ilmu, yang mungkin bisa bermanfaat bagi teman-teman semua. Salah satunya adalah dari teman saya yang tak saya sebut namanya.
Seingat saya, dulu dia termasuk murid yang pandai di kelas. Tak jarang, dia mendapatkan nilai di atas rata-rata dan mencapai ranking kelas. Ketika sesi sharing, dia menceritakan kisah perjuangan hidupnya hingga dapat menempuh jenjang kuliah saat ini yang katanya diambil dari jalur berbeda dari yang lain.
Selepas lulus dari SMP, dia melanjutkan studinya di salah satu SMK di kota Sukoharjo. Seperti jenjang sekolah menengah kebanyakan, selepas 3 tahun dia pun lulus kembali. Sampai di sini dia mengungkapkan bahwa ia memiliki kebimbangan antara melanjutkan kuliah atau memutuskan utnuk bekerja. Dia beranggapan bahwa jika ia bekerja, ia dapat membantu orangtuanya, sedangkan akan bergantung kepada orang tuanya jika ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Hingga akhirnya dia pun memilih bekerja terlebih dahulu di luar kota selama 2 tahun. Menuju akhir pekerjaannya, dia pun berpikir kembali bahwa menuntu ilmu itu penting baginya, setidaknya dapt mempermudah mencari pekerjaan jika sudah mendapat gelar sarjana nantinya.
Setelah itu, dia pun bertekad bulat untuk memutuskan berkuliah di salah satu PTN di Solo. Selama 1 bulan, dia belajar dengan sangat tekun dan harus pulang balik SOLO ke tempatnya bekerja hanya untuk mendaftar SBMPTN di sana. Dan Alhamdulillah, ALLAH menjawab doanya. Ia pun diterima di sana dengan program studi pilihannya.
Dari pengalaman teman saya tersebut, saya dapat menarik kesimpulan bahwa ALLAH akan mempermudah hambaNya yang mau berjuang, bekerja keras, dan berdoa, serta bertawakal kepadaNya. Begitu pun dengan orang-orang yang menuntut ilmu, InsyaALLAH ALLAH akan memudahkan jalan mereka. Walaupun sebelumnya ada yang berpikir minimnya keuangan untuk membayar uang kuliah atau sulitnya mengerjakan soal tes, atau alasan lainnya, namun jangan khawatir, ALLAH lah yang akan menolong dengan keajaiban dan kuasaNya. 

Bukankah kemudahan kita dalam menuntut ilmu adalah kehendak dan pemeberian ALLAH SWT?
Bukankah kesuksesan yang mungkin kita dapat saat ini adalah hadiah dari ALLAH SWT?
Bukankah segala yang terjadi pada diri kita hingga saat ini tak lain adalah takdir dari ALLAH SWT?

Kita sering lupa bahwa kita hanyalah hamba, kemudahan dan kemampuan kita dalam bekerja serta menuntut ilmu adalah bentuk kasih sayangNya kepada kita. Sejatinya kita tidak memliki apa-apa, itulah yang harus diingat.
Pengalaman lain datang dari teman saya sekelas dulu. Tak jauh berbeda dari pengalaman teman saya sebelumnya. selepas lulus SMP, dia harus bekerja dulu untuk mengumpulkan biaya sekolah lanjutan selama 1 tahun. Setelah itu, baru dia bisa melanjutkan ke jenjang SMK. Teman saya yang satu ini juga pintar di berbagai bidang khususnya matematika. Setahu saya, dia pernah menjadi perwakilan kabupaten dalam olimpiade matematika di tingkat provinsi. Hebat sekali bukan?
Tak berbeda dengan sekolah yang lain, ia menamatkan SMK dalam jangka waktu 3 tahun. Ketika ingin melanjutkan kuliah, nasib berkata lain, ia tidak lolos jalur SNMPTN. Dia pun memutuskan utnuk bekerja kembali demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah utnuk melanjutkan ke bangku kuliah. Pada tahun berikutnya, ia pun memutuskan utnuk memasuki kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, alasannya supaya ia dapat bekerja part time juga.
Usaha dan kerja kerasnya lah yang terkadang membuat saya malu. Ketika dia sudah dapat membiayai kuliahnya sendiri, namun saya masih tetap saja bergantung kepada orangtua. Tak henti-hentinya saya berdecak kagum melihat proses panjang perjuangannya dalam menempuh ilmu. Semoga ALLAH meningkatkan derajatmu dan memberikan rahmat kepadamu teman.
Begitu pun dengan pengalaman yang pernah saya dengar dari Ust Hannan Attaki di sebuah kajian beliau.  Sebelum memustuskan menuntut ilmu di Mesir, tepatnya Universitas Al Azhar, beliau sempat dihinggapi kebimbangan karena ketidakcukupan biaya yang dimiliki. Hingga akhirnya, ustadznya menasihati beliau bahwa segala kecukupan dan rezeki adalah pemberian ALLAH. Mau di Mesir atau di Indonesia, ALLAH tetap akan mencukupi rezeki hambaNya sesuai kehendakNya. Setelah itu, Ust. Hannan Attaki pun bertekad untuk pergi ke Mesir dengan dana seadanya.
Setelah sampai di Mesir, dia pun berjuang untuk mencari beasiswa di sana. Bermodalkan kemahirannya dalam membaca Al quran, dengan izin ALLAH, beliau pun berhasil mendapatkan 3 beasiswa kuliah sekaligus.
Nah itulah kuasa ALLAH yang ditunjukkan kepada kita. ALLAH sudah berjanji bahwa Ia akan memberi rezeki hambaNya dari arah yang tak terduga-duga selama hamba tersebut mau berjuang dan berusaha di jalan yang lurus.
Sungguh ALLAH menyukai orang yang bertakwa di antara kita, namun ALLAH lebih menyukai orang yang bertakwa dan berilmu di antara kita. ALLAH sangat mencintai pemuda-pemuda yang mau bekerja keras di jalan dakwah serta mau menuntut ilmu untuk menggapai ridhoNya. Maka dari itu, jadilah muslim yang cerdas, bertakwa, dan kuat. Luruskan niat kita dalam beribadah, berusaha, dan belajar tak lain hanyalah untuk menggapai ridho dan rahmat ALLAH. Semoga kita termasuk orang-orang yang berada di golongan kanan. Aamiin.

Bismillah, Do it for the sake of ALLAH.